tembakau
tembakau

Lebaran telah usai. Setelah semua bergembira ria merayakan hari kemenangan, bermaaf-maafan, bertemu teman-teman melepas kangen. Sebagian masyarakat ada yang sudah kembali pada kehidupan seperti biasa. Pekerjaan yang sehari-hari harus kita lakukan.

Bagi para petani tembakau, musim tanam tahun ini bisa dibilang sebagai musim yang tidak baik. Lewat beberapa obrolan, kabar tak mengenakan tentang tidak bagusnya cuaca mempengaruhi kondisi bibit yang tak berkembang baik. Ingatan tentang buruknya panen tahun lalu kembali membayang.

Bulan Mei adalah masa-masa awal musim tanam. Pembibitan telah dilakukan sejak April hingga awal Mei. Setelah itu bibit mulai ditanam, sembari dirawat juga mengharap cuaca yang baik untuk perkembangan tumbuh tanaman.

Sayangnya, cuaca tahun ini sama labilnya seperti cuaca tahun lalu. Dari cerita yang saya dapatkan dari seorang kawan petani tembakau, sebagian petani bahkan sampai mengganti bibit hingga 3 kali karena tumbuh kembang tanaman tidak maksimal karena cuaca.

Pada penanaman pertama, bibit tidak berkembang karena cuaca terlalu panas. Hujan belum turun dan tanaman kekurangan air. Akibatnya tanaman tidak berkembang, bibit pun diganti agar hasil panen dapat maksimal.

Begitu bibit diganti, cuaca terlampau basah. Hujan terus mengguyur hingga membuat tanaman cepat layu. Kadar air yang terlalu berlebih memaksa para petani kembali menggantinya dengan bibit baru. Sekali lagi, agar panen dapat maksimal.

Bayangkan saja, belum lama musim tanam berjalan para petani sudah menanam bibit sebanyak tiga kali. Dua kali tanam bibit gagal, semoga bibit ketiga ini bisa tumbuh maksimal. Atau paling tidak tanaman bisa tumbuh dengan layak.

Tapi berharap saja tentu tidak cukup. Mengingat curah hujan diprediksi tetap tinggi hingga masa panen nanti, maka penanggulangan terhadap masalah ini perlu dilakukan. Apalagi yang diprediksi itu telah terasa oleh petani saat ini.

Tahun lalu, keadaan panen tembakau boleh dibilang menyedihkan. Kualitas tembakau tidak terlalu baik, harga pun jatuh. Padahal para petani telah mengeluarkan modal yang tidak sedikit. Itu pun kebanyakan petani kesulitan mendapat pinjaman modal dari Bank ataupun pemerintah.

Memang, penanggulangan persoalan cuaca ini tidaklah mudah. Cuaca tak bisa diubah paksa, tak bisa kita mengharap musim yang pasti basah tiba-tiba menjadi kering. Kecuali memang ada mukzizat dari Tuhan. Tapi masalah ini sebenarnya bisa ditanggulangi sejak dini, ketika prediksi cuaca keluar dan respon cepat dari pihak terkait.

Berkaca pada tahun lalu, prediksi kemarau basah telah diketahui sejak dini. Tapi tidak ada perlakuan khusus yang dilakukan dinas perkebunan untuk mengurangi beban kerugian petani. Malah pihak perusahaan rokok yang menjadi pembeli hasil panen petani justru memberikan penyuluhan terhadap petani.

Mereka telah memberi tahu bahwa musim tidak baik, maka jangan tanam bibit terlampau banyak. Tak hanya itu perusahaan juga memberikan bantuan bibit dan pendampingan ketika masa tanam berlangsung. Walau hasil panen memang tidak begitu bagus, namun bantuan kepada petani jelas sangat bermakna untuk membuat mereka tidak gagal panen.

Semoga tahun ini para petani mendapat bantuan yang lebih dari pemerintah. Mengingat keberlangsungan perkebunan tembakau turut menyumbang pertumbuhan bagi negara ini, maka sudah sepantasnya pemerintah lebih memperhatikan nasib para petani tembakau. Atau setidaknya ya patuhi aturan untuk alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau bagi pertanian tembakau.