Tembakau Sebagai Realitas Sosial

Bagi anda yang fobia tembakau dan rokok, jangan buru-buru menutup buku yang satu ini sebelum membaca isinya. Berbagai fakta dan cerita yang diungkap oleh dua belas wartawan dalam buku ini mungkin akan mengubah cara pandang anda mengenai tembakau.

Kisah pertama yang paling memicu keheranan dan rasa penasaran, Berbagi Kasih dan Kontroversi di Rumah Balur. Pernah terbayangkah di benak anda bahwa rokok dan asap rokok dimasukkan sebagai salah satu elemen terapi pengobatan? Sekitar 7000 jurnal penelitian kedokteran di dunia menyatakan bahaya rokok dan asap rokok bagi kesehatan manusia, lalu ada perempuan peneliti Indonesia yang mengangkat produk olahan tembakau ini menjadi obat yang menyembuhkan.

Tentu banyak kontroversi yang muncul kemudian, namun pasien Rumah Balur – yang biasa disebut relawan – terus berdatangan dan merasakan khasiat dari terapi yang disuguhkan. Dr. Gretha Zahar, penemu terapi balur berusia 72 tahun menghayati hidupnya dengan berinteraksi, menyembuhkan dan menyelamatkan hidup orang lain. Larutan divinekretek yang diusungnya di Rumah Balur merupakan penemuan besar dan mahakarya dalam ilmu pengetahuan yang berbasis kearifan lokal. Menurutnya, banyak peneliti yang tidak tertarik mendalami khasiat tembakau karena sudah termakan stigma negatif yang melekat pada tembakau.

Tujuh tulisan diantaranya mengungkapkan kisah dan curahan hati petani yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya dari bertani tembakau. Cerita petani tembakau Wonosobo, Bali, Temanggung, Lombok, Garut, Deli dan Boyolali, dibingkai dengan tradisi dan ritual masyarakat setempat yang melibatkan rokok dan tembakau sebagai bagian penting dari kelangsungan hidup mereka. Di Wonosobo, J.Anto mengungkapkan tembakau merupakan bagian dari tradisi nginang atau menyirih bagi orang tua. Di Bali, rokok diletakkan sebagai salah satu syarat ritual bebantenan atau tradisi menyembah Tuhan. Sementara rakyat Temanggung dalam tuntutannya bersikukuh bahwa merokok tidak akan membuat mereka mati. “Tembakau atau matii !”

Tembakau Virginia yang ditaman Amaq Teme dan petani tembakau lain di Lombok menceritakan sebuah fragmen jatuh-bangun para petani “berjudi” dengan cuaca dan tingkat harga temabakau di pasaran. Sukses yang diraih para petani tersebut semata untuk kesejahteraan anak dan istri, karena tembakau adalah hidup orang-orang ini. Kisah perkebunan tembakau Deli yang awalnya merupakan kawasan sumur bor juga turut memainkan emosi pembaca.

Di tanah Garut, tempat kelahiran tembakau mole yang termasyhur, kini hanya tersisa Aceng Elin, petani tembakau generasi terakhir di kampung Maribaya, Garut. Sejarah kejayaan tembakau mole yang molek mungkin saja tidak bisa lagi dijumpai di masa datang, karena dibasmi oleh kekuatan-kekuatan dari luar desa. Berbeda dengan di Boyolali, kepulan temabakau menjadi kepulan harapan baru. Tembakau menjadi kunci roda perekonomian yang terus berputar di Boyolali.

Jika rokok selalu diidentikkan dengan maskulinitas, maka apa yang coba dikemukakan Saifullah Nur Ichwan, Adelina Safitri dan Helena Rea dalam catatan mereka ialah melawan anggapan tersebut. Sebenarnya memang tidak ada aturan baku perempuan dilarang merokok, tetapi prasangka buruk masyarakat terhadap perempuan perokok agaknya lebih besar daripada perokok pria. Jika dicermati hampir di setiap sendi kehidupan, isu gender selalu muncul dan mengemuka, entah mengapa perempuan selalu menjadi pihak yang dipinggirkan. Sri Prihati Sulistyo, seorang kepala desa, Dhani Purba, wartawati sebuah koran harian dan sekumpulan perempuan penglinting rokok kota Kudus menjadi cermin bagaimana kebiasaan merokok juga melibatkan isu gender.

Sri Prihati, yang dulunya adalah penyanyi terkenal ibu kota, kini turun tangan menjadi politisi desa. Jiwa seni yang ia miliki mendorongnya membentuk kelompok musik kolintang bernama Arimbi di kecamatan Godean. Dari kisah ini, pembaca ditunjukkan bahwa dengan menjadi perokok, Sri tidak kehilangan derajat dalam menjalankan peran dan fungsi sosialnya di masyarakat dan keluarga. Begitu pula dengan Dhani Purba, seorang wartawati yang kerap kali merokok di toilet umum setiap kali keinginan merokok menjajahnya secara tiba-tiba. Ia mengaku membutuhkan rokok, agar tulisannya mengalir deras.

Ketika kesulitan menulis hinggap, Dhani mulai mengepulkan asap rokoknya dan secara ajaib tulisannya pun akan “mengepul” juga. Dalam tulisan ini penulis mengaitkan kepedulian Dhani sebagai wartawati terhadap nasib petani tembakau dan pedagang kecil yang bergantung pada rokok. Kegamangan juga dialami Sri Kuntini dan jutaan buruh penglinting perempuan lainnya. Mereka adalah pihak yang perlu dipertimbangkan dalam perang nikotin oleh organisasi-organisasi anti rokok.

Tulisan pamungkas, Divine Kretek, Asap Ajaib yang Menyehatkan menjelaskan teknis bagaimana asap divine kretek dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Pendekatan nano biologi yang digunakan dalam terapi balur divine kretek memang tak mudah untuk dicerna. Secara sederhana, asap rokok kretek yang dikecilkan dalam skala nano (satu nano sama dengan seper semiliar meter) dan dihisap atau disemburkan ke lubang tubuh pasien, mampu meluruhkan dan mengeluarkan radikal bebas dari dalam tubuh. Dalam bentuk nano, racun-racun di dalam tubuh dapat keluar dengan sangat mudah melalui pori-pori kulit, tanpa meninggalkan luka. Terapi balur sendiri tidak hanya terdiri dari merokok divine kretek. Sebelum terapi pasien meminum larutan asam amino, lalu dibaringkan diatas tembaga dan dibalur dengan berbagai ramuan, seperti garam, air kelapa, kopi dan sebagainya.

Pada akhirnya, produk jurnalistik harus menemui titik sasarannya. Pesan yang disampaikan tentu beragam, namun meruncing pada misi mengungkap sebuah realitas sosial. Tinggal bagaimana pembaca menerima dan mempersepsikan apa yang ia dapat.

Judul : Kisah Tentang Tembakau Kumpulan Tulisan Jurnalisme Sastrawi

ISBN : 978-979-8933-60-8

Penerbit : ISAI

Terbit : Juni 2012

Jumlah Halaman : 225

(Visited 392 times, 1 visits today)