Selintas Kisah, Beluntas dan Pendiri Gudang Garam

Celah sejarah bisa mendadak terbuka, di saat tanpa sengaja mendengar cerita yang tidak mengemuka. Hanya sayup terdengar, berpendar di lorong jalan, berdenyut di pasar, atau di kerumunan orang yang mengantri nasi di warung pecel. Namun kisahnya terus berjalan, diulang-ulang, dan tanpa sadar menjadi inspirasi yang mengiringi kehidupan sehari-hari. Seperti kisah antara tanaman beluntas dan Tjoa Jien Hwie alias Surya Wonowidjojo, sang pendiri perusahaan rokok PT Gudang Garam Tbk., Kediri, Jawa Timur.

Siapa yang tidak mengenal tanaman beluntas: jenis tanaman perdu yang berkeliaran di seluruh zona tropis di seluruh dunia. Memiliki nama ilmiah plucea indica (L), untuk tumbuh normal, tanaman yang dalam bahasa Jawa disebut luntas ini, membutuhkan banyak sinar matahari. Karena mampu tumbuh di lahan gersang sekalipun, beluntas banyak hidup di tengah pemukiman, difungsikan menjadi pagar tanaman atau pembatas kepemilikan tanah.

Kawasan pabrik PT Gudang Garam Tbk. adalah tempat yang tidak luput dari perkembangbiakan tanaman berdaun bulat telor ini. Bahkan, menjadi saksi bisu perkembangan perusahaan yang kini masuk dalam triumvirat pabrik rokok terbesar di Indonesia. Sejak rintisan pabrik didirikan di atas lahan 1.000 meter persegi pada 26 Juni 1958, hingga pada tahun 2013 meluas ke areal 208 hektare, beluntas setia mendampingi.

“Dulu, taman di unit-unit produksi dan perkantoran selalu dihiasi tanaman luntas,” kata Adnan, pensiunan karyawan PT Gudang Garam, Jum’at, 14 Agustus 2015.

Menurut lelaki 64 tahun yang sejak mulai bekerja di Gudang Garam tahun 1972 hingga pensiun tahun 2006 menjabat sebagai mandor, beluntas menjadi pemandangan utama. Meskipun seiring dengan penataan kawasan pabrik mulai ada penambahan berbagai jenis bunga yang ditaruh di dalam pot-pot besar, tapi beluntas tetap mudah ditemui.

Penanaman beluntas besar-besaran di lingkungan pabrik konon dipicu sebuah peristiwa pada suatu sore, di saat para pekerja linting hendak pulang. Surya Wonowidjojo yang sedang melintas di sekitar pabriknya melihat banyak wanita buruh linting berhenti di sekitar tanaman beluntas. Mereka meramban (memetiki) pucuk daun muda, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Setiap hari, tangan-tangan yang seharian bergulat dengan linting-melinting rokok, menyudahi sore dengan meramban daun beluntas. Setelah mengobrol dengan pekerjanya, lelaki kelahiran Fukien, Cina itu jadi tahu bahwa daun beluntas akan dimasak sesampainya para buruh di rumah. Ada yang dijadikan lalapan, diolah jadi botok, atau jadi trancam yang dicampur dengan sayur-sayuran yang biasa dipakai pelengkap menu makanan pecel.

Setelah tahu karyawannya setiap hari meramban luntas, Surya lantas memerintahkan agar penanaman beluntas diperluas. “Beliau selalu ingin menyenangkan karyawan, salah satunya ya dengan menyediakan luntas sebanyak-banyaknya,” kenang Adnan yang mendapat gaji pertama senilai Rp 1.600 / bulan pada tahun 1972. Saat itu harga sepincuk nasi pecel Rp 25,-.

Setelah muncul instruksi penanaman beluntas, tumbuhan berwarna hijau terang sehingga mudah dikenali dari jarak pandang terjauh itupun terus meruyak ke lingkungan pabrik. Tidak hanya di taman, tapi juga berkembang ke pagar-pagar luar pabrik.

Menurut Adnan, tanaman berbau khas dengan rasa getir itu juga bermanfaat meningkatkan nafsu makan. Bau-bau tidak sedap yang ada di dalam tubuh juga sirna. Mulai dari bau mulut hingga bau badan. “Juga dipercaya bisa meredakan demam dan berbagai ganguan kesehatan lainnya,” kata Adnan yang kini menjabat sebagai Ketua RT 21/RW 04, Desa Doko, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri.

Dengan berbagai kasiat daun beluntas, tentu sangat masuk akal jika Surya mendorong karyawannya terus memetik daun tumbuhan yang dalam bahasa Cina disebut Luan Yi. Para pekerjan terjaga kesehatannya, dan kegemaran menikmati kegetiran rasa beluntas juga terpenuhi. Hati pun riang, bekerja pun senang.

Sepeninggal Surya Wonowidjojo yang wafat pada 28 Agustus 1985, pelestarian beluntas di sekitar pabrik terus terjaga. Ketika tongkat estafet berpindah ke putranya, Tjoa To Hing alias Rachman Halim, beluntas masih terlihat menjadi pagar hidup di sejumlah unit. Bahkan lapangan sepak bola di sebelah selatan Gedung Sasana Krida Surya Kencana, juga dikelilingi tanaman beluntas yang berkelindan dengan jenis tanaman perdu lainnya.

Menurut situs resmi perusahaan di tepi Sungai Brantas itu, hingga akhir 2014, sedikitnya 36.400 orang bekerja di PT Gudang Garam Tbk. beserta anak perusahannya. Jika seluruh karyawan setiap hari mengkonsumsi beluntas, tentu stamina dan kesehatan para karyawan tetap terjaga. Alhasil, biaya kesehatan bisa nihil alias utuh, dan anggarannya bisa dipakai untuk terus meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Pada tanggal 27 Juli 2008, Rachman Halim meninggal dunia saat dirawat di Rumas Sakit Mount Elizabeth Singapura. Jabatan Presiden Komisaris sebagai nahkoda perusahaan berpindah ke tangan adiknya, Juni Setiawati Wonowidjojo.

Di bawah kendali Juni, meskipun perusahaan terus memperluas pasar ke dunia internasional, namun ikhwal tanaman beluntas sepertinya tidak terlalu diganggu. Setidaknya di sepanjang Jalan Demak, tempat rumah besar keluarga Tjoa berada, beluntas tumbuh subur di kiri dan kanan jalan. Jalur di tengah lingkungan pabrik yang menjadi jalan penghubung antara Unit 3 ke Unit 4 itu bebas dilewati siapa saja. Kecuali pukul 22.00 – 05.00, jalan ditutup untuk umum.

Dari ujung barat Jalan Demak yang berdekatan dengan hanggar helicopter Surya Air, salah satu anak perusahaan yang melayani penerbangan tak terjadwal, hingga pertigaan menuju Unit 4, tanaman beluntas boleh dipetik siapapun. Ketika kediripedia.com meminta ijin memetik beluntas, Satpam yang menjaga rumah besar keluarga Tjoa mempersilahkan dengan sopan. “Monggo, silahkan. Ndak apa-apa,” kata lelaki berseragam biru itu.

Barangkali para karyawan Gudang Garam tidak banyak lagi yang suka memetik beluntas ketika pulang kerja. Di ujung Jalan Demak sebelah barat rumah keluarga Tjoa, beluntas ada yang tumbuh hingga setinggi 3 meter. Mungkin karena sudah jarang yang meramban, perdu getir itu tumbuh meliar dan meninggi.

Pola hidup memang terus berubah seiring perkembangan zaman. Beluntas yang dulu menjadi makanan favorit, mungkin kini sudah tergantikan oleh banyaknya jenis makanan yang tidak memerlukan lagi perannya sebagai penyedap. Tapi, setidaknya beluntas yang tersisa di beberapa ruas jalan komplek pabrik Gudang Garam menjadi pengingat: pernah terjadi hubungan yang sangat karib antara majikan dan buruh. Hubungan yang menjadi kunci sukses dan lestarinya sebuah perusahaan, dimana beluntas menjadi saksi kunci.

Sumber: Kediripedia