Cinderamata Bebas Tafsir

Apa biasanya pernak-pernik yang suka kita komentari sepulang dari menghadiri acara pernikahan kerabat, selain busana pengantin, makanan, hiburan, selain juga pagar ayunya. Yup. Cinderamata alias merchandise. Dari pernik semacam itu kita seolah diberi sebuah ‘ruang bebas tafsir’ atas nilai guna maupun citra merchandise. Kadang itu menjadi cara kita menangkap maksud baik mempelai dalam mengeneralisir tamu undangannya. Ya niscaya itu. Bukan hal yang mutlak juga.

Bahkan kalangan tertentu menganggap sebuah merchandise adalah personifikasi mempelai atas status sosial maupun ekspresi budayanya. Tentang kegemarannya atau tentang kepeduliannya. Prinsip dasarnya sih tetap sebagai tanda terimakasih atas kehadiran.

“Apa sih pentingnya merchandise, itu kan sepele banget beib.”

“Emangnya kamu seneng dapet pengupas kentang ?”

“Seneng apanya. Aku kan nggak suka masak.”

“Terus kamu sukanya apa dong ?”

“Aku sukanya menyelam….Menyelami hatimu.”

“Aheey, betewe, kalo kita nikah nanti, kira-kira merc…”

“Op op op. Kuliah aja belum juntrung udah ngomongin nikah.”

Memang sih tidak semua orang aware dengan yang namanya merchandise dari acara pernikahan. Bahkan ada yang menganggap itu cuma apalah-apalah. Tapi bukan tidak mungkin ada orang yang sangat menghargai itu bahkan dia terobsesi menjadi kolektor merchandise pernikahan. Baik itu merchandise pernikahan teman maupun mantan. Terus tulisan ini apa hubungannya dengan rokok dan perokok ?

Oke oke. Biar nggak ngelantur jauh, intinya begini. Pernah dapat merchandise korek api ? Asbak ? Kotak penyimpan rokok? Kalau pernah coba sempatkan tanya motivasinya ke mempelai, kenapa sih merchandise-nya yang punya nilai guna buat perokok ?  Mempelai yang cerdas mesti jawabannya begini: “Kalo merchandise-nya kipas atau gelas, apalagi pengupas kentang. Ya jelas bukan kita banget.” (((kita))) Yup. Kita yang Indonesia maksudnya. Kita yang sesama perokok.

Merokok adalah suatu eksepresi budaya. Ekspresi yang lahir dari sejarah peradaban suatu bangsa. Tapi bagi yang punya ekspresi budaya lain, ya nggak apa. Teman saya Nody Arizona misalnya, yang gemar menggeluti dunia kopi. Pas kelak dapat pasangan sama pula kegemarannya. Sama-sama dipertemukan oleh nasib. Eits jangan salah kaprah dulu. Nasib di sini maksudnya nasib penikmat kopi.

Apa salah kita membayangkan di acara pernikahannya Nody kelak (pada suatu masa yang nisbi) kita bakal membawa pulang merchandise berupa grinder kopi yang,  “aiiih vintage banget Nod.” Soal itu dianggap tidak punya nilai guna bagi tamu lainnya, tentu itu hal lain. Kelak mungkin seorang Bilven yang bermazhab Sandalista itu.

Lelaki jomblo yang waktunya sangat cekak buat keluar dari dunia buku dan bir. Bagi dia minum bir juga adalah ekspresi budaya yang punya arti tersendiri di meja pergaulan. Dan niscaya pembuka tutup botol menjadi sesuatu yang penting dalam menunjang ekspresi budaya tersebut. Tapi bukan berarti kelak Bilven bakal menyediakan merchandise alat pembuka tutup botol buat kita para tamu undangannya. Boleh jadi malah senter jepit, penerang aktifitas membaca di saat gelap. Soal itu tidak punya nilai guna bagi masyarakat yang rabun baca, ya itu lain hal.

“Lucu ya ini beib.”

“Apanya yang lucu, merchandise gitu kan bisa dibeli di mana aja.”

“Bukan soal barangnya, emang sih apalah arti gantungan kunci.”

“Iya lucu apanya, di mana bagian lucunya ?

“Ini dong baca quote-nya. Sapardi bangeeet”

Yang fana adalah waktu. Kita abadi.

-Adit dan Mempelai

(Visited 322 times, 1 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam