Lombok Sebelum dan Sesudah Tembakau

DCIM166GOPRO

Periode 1980-an, lombok tengah adalah kawasan tertinggal yang tidak memiliki apa-apa. Petaninya miskin, tidak terjamah pembangunannya orde baru, tingkat kriminalitas yang tinggi, bahkan ada desa yang dinamai “desa tertinggal”. Pokoknya, lombok pada masa itu mencerminkan kehidupan yang cukup saja belum.

Padahal kini, lombok tengah justru menggeser lombok utara sebagai kawasan dengan pembangunan yang lebih maju. Padahal dulu, lombok utara adalah kawasan yang lebih maju karena pertanian yang lebih subur. Namun, keadaan di lombok tengah menjadi berbeda setelah potensi pertanian tembakau dimaksimalkan.

Memang tembakau sudah ada di lombok bahkan sejak tahun 50-an. Namun potensi pertaniannya tidak maksimal, karena kekurangpahaman para petani akan tembakau dan tidak adanya bimbingan kepada petani untuk memaksimalkan kualitas tembakau di sana.

Lalu pada periode 1980-an, mulai hadir pabrikan yang menawarkan pola kemitraan pada para petani tembakau. Dalam konsep ini, kemitraan antara petani dan tembakau jelas sangat membantu dan menguntungkan petani. Mengingat pabrikan akan langsung membeli tembakau dari petani, hingga petani yang bermitra tak perlu takut tembakaunya tidak terserap oleh pasar.

Tak hanya itu, para petani pun kemudian mendapatkan pendampingan dari pabrikan selama proses tanam tembakau hingga panen. Pada awal masa tanam, petani akan mendapatkan penyediaan benih dari pabrikan dan diberi semacam lokakarya tentang penanaman agar nantinya tembakau yang dipanen berkualitas tinggi.

Lalu, pendampingan akan terus dilakukan hingga masa panen. Mulai dari pengontrolan kadar air pada tembakau ketika di-­curing, hingga nantinya tembakau akan langsung dibeli oleh pabrikan yang bermitra dengan petani.

Hasilnya, silahkan lihat keadaan di lombok tengah. Pembangunan di sana semakin berkembang. Jalan-jalan sudah teraspal, hingga akses keluar-masuk lombok tengah menjadi mudah. Rumah-rumah sudah dipasangi listrik, dan tingkat kriminalitas sudah jauh berkurang.

Tapi bukan itu cara mengukur kesejahteraan yang dirasakan petani di Lombok tengah. Haji Sabarudin, seorang petani tembakau asal Desa Lekor mengatakan kalau petani punya cara sendiri untuk mengukur kesejahteraan petani tembakau. “Coba saja lihat, berapa banyak petani yang naik haji setiap tahunnya,” ujarnya sambil tertawa.

Ya, dampak langsung dari kesejahteraan petani tembakau pasca bermitra dengan pabrikan adalah banyaknya petani yang menunaikan ibadah haji setiap tahunnya. Menurut Haji Sabarudin, hampir setiap tahun selalu ada petani tembakau yang berangkat haji karena pemasukan dari panen melimpah. Ya, ini bisa dibilang sebagai rasa syukur kepada Tuhan karena diberi rezeki yang melimpah.

Tingkat kesejahteraan petani tembakau di lombok tengah memang meningkat cukup tinggi karena hasil panen yang bagus dan langsung terserap oleh pasar. Para petani pun mulai mengembangkan usahanya dengan membeli sapi untuk diternakkan bersama dalam Gabungan Pokok Tani yang didirikan oleh mereka.

Jadi, jika ada yang bilang kalau hidup petani tembakau itu miskin, maka mereka adalah orang yang mudah termakan propaganda anti rokok. Padahal jika mereka datang ke sentra-sentra tembakau seperti di lombok, mereka bisa melihat kalau hidup petani tembakau tidak serendah itu, bahkan mungkin lebih dari mereka yang melakukan propaganda itu.