Phoenam Poenya Cerita: Persinggahan Bagi Perokok Sehabis Melaut

I’ll be there for you I’d live and I’d die for you
I’d steal the sun from the sky for you…

Berbahagialah para perokok yang memilih lokasi ngopi di kafe Phoenam Casablanca hari ini. Bukan apa-apa, di sini ruang yang dikhususkan untuk perokok jauh lebih lega dibanding ruang untuk non perokok. Padahal 2013 lalu sewaktu Komunitas Kretek Jakarta menggelar workshop menyeduh kopi dan melinting kretek, yang disediakan untuk perokok tempatnya kecil —untuk tidak membilang sempit. “Ditukar karena pengunjung perokoknya lebih banyak aja sih, Mas. Saya juga perokok, kalo lagi kerja aja nggak ngerokok,” ungkap Anggy (28 tahun) kasir bergaya rambut Rockabilly yang mendaku sudah tiga tahun bekerja di Phoenam dengan ramah.

Di ruang istimewa ini, pengunjung yang punya kesenangan sama (baca: merokok) terlihat asyik merayakan arti merdeka sebagai manusia kota. Baik yang sedang bersantai di sofa maupun di meja terbatas. Bertukar kelakar dengan teman, mungkin juga dengan gebetan. Saya tidak merasakan kesunyian manusia kota seturut yang diisyaratkan Chairil Anwar pada nasib adalah kesunyian masing-masing. Boleh jadi ketika masing-masing kembali ke rumah, kesunyian pun menjelma.

Di sini, di kafe yang jaraknya tak jauh dari stasiun Tebet ini, menu yang disuguhkan tak sebatas makanan dan minuman. Yang pasti kopi seduhan Phoenam punya cita rasa tersendiri. Musik yang meruang dari mesin pemutar lagu beragam terdengar. Saat tulisan ini diketik lantunan I’ll be There For You—Bon Jovi seakan ingin menyinggung kenangan orang yang pernah ngegombalin mantan dengan liriknya yang luarbiasa itu. Maaf, bagian ini agak mengandung curhat.

Buat yang mau selfie di wall of fame Phoenam Poenya Tjerita—yang berisi riwayat singkat kedai kopi Phoenam—mesti masuk dulu ke ruang non perokok. Selfie di situ sambil merokok tentunya perbuatan yang salah. Di pojok ruang itu terpampang besar sebingkai Phoenam Poenya Tjerita. Dari Kota Makassar legenda kopi Phoenam bermula. Singkatnya, diawali langkah Liong Thay Hiong yang berkongsi dengan kerabatnya, Prof. Dr. Thay Phen Liong, membuka kedai pada tahun 1946.

Nama ‘phoen-am’ memiliki arti ‘persinggahan selatan’, target pengunjungnya dulu adalah para pelaut, karena letaknya yang berada di dekat pelabuhan. Kedai yang awalnya bernama Phoe Nam Cold Drink ini dulunya menyediakan bir untuk para pelaut. Seturut waktu menjadi berkembang. Kafe Phoenam memiliki cabang di banyak tempat di berbagai kota besar. Malam ini sudah dua tiga kali saya melihat orang-orang bertanda pengenal pers sliweran, beberapa asyik dengan gajetnya. Entah mungkin karena ada narsum (baca: tokoh publik) yang lagi ngopi untuk diwawancarai, dan itu yang pasti bukan saya.

Wajar jika kafe Phoenam Casablanca menjadi pilihan pavorit untuk berlabuh menyandarkan punggung letih para wartawan. Sudah bukan hal baru bagi orang yang menyuntuki dunia tulis-menulis berteman rokok, selain kopi dan daya kreasi tentunya. Prioritas ruang merokok di suatu tempat kumpul semacam kafe sudah selayaknya menjadi perhatian.

Saya jadi teringat sebuah pesan bijak yang dikatakan sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Berterimakasihlah kepada segala yang memberi kehidupan. Karena itu pula tulisan ini saya dedikasikan sebagai bentuk terimakasih saya kepada Kafe Phoenam yang telah memberi ruang lega untuk perokok, juga terimakasih saya kepada yang mentraktir saya ngopi. Trims ya tjoi