Tobeko Sigaret Store: Bermula dari Hobi

Sepintas tampak dari luar tempat usaha Pak Nanang yang berada di Nologaten Sleman ini tidak seperti toko penjual rokok umumnya. Bahkan, orang awam mungkin akan keliru menuduh jika luput membaca plangnya. Selain bentuk bangunan yang bersahaja, tanpa embel-embel penguat kesan dagang di sana-sini, Tobeko Cigarette Store milik Pak Nanang yang menyatu dengan rumah huniannya itu terbilang baru, mungkin hanya kalangan tertentu saja yang tahu.

Toko ini khusus menjual produk-produk yang berhubungan dengan tembakau. Aksen hitam-putih lebih mendominasi warna dinding toko. Tidak ada secuil pun sampah terserak sembarang. Di teras maupun di dalam toko. Dari kesan itu dapatlah dipetik disiplin kebersihan pemiliknya. Tentu bagi penggemar rokok-rokok lawasan atau cerutu-cerutu buatan Indonesia tak salah alamat untuk membeli merek-merek kegemaran di Tobeko Cigarette Store ini.

Anda pun biisa menikmatinya sambil bertukar cerita dengan Pak Nanang yang bakal menjadi pengalaman menyenangkan. “Rokok-kokok ini saya hunting sendiri, ya gimana, wong saya juga hobi ngoleksinya,” jelas Pak Nanang.

Tersedia dua bangku sederhana dan meja mini di dalam toko. Sejumlah piringan hitam terpajang apik di dinding. Rokok klobot, kretek, cerutu, menjadi ornamen yang memberi kesan tersendiri. Pada rak kecil bagian pinggir terdapat juga sejumlah kaset kenangan koleksi pribadi. Dan satu hal lain yang menarik bagi saya, di bagian kaca depan terdapat stiker bertanda 18+. Yang artinya sama dengan: merokok adalah pilihan dewasa bukan menunjukkan sudah dewasa.

“Masuk 1 Oktober ini genap empat bulan sudah usaha saya ini mas,” ujarnya ramah. Dari sorot matanya yang bersahabat membuat saya yakin banyak sudah asam-garam pergaulan dikecapnya. “Dulu pernah saya buka chinese food usaha kuliner dan sea food, dari usaha itu saya beralih ke usaha yang peruntungannya fast moving,”  sambungnya lagi. Seketika obrolan kami terpotong oleh dua orang pelanggannya yang membeli beberapa bungkus kretek mild. Tak lama berselang obrolan pun dilanjut.

“Usaha barang nostalgia ini bagi saya sekadar penyalur hobi saja. Bukan murni bisnis.”

“Kalau kami beli semua yang langka-langka itu gimana pak ?” Tanya saya setengah serius.

“Ya nggak apa-apa, asal satu merek satu, biar tetap ada yang bisa saya pajang.” Jawabnya sumringah.

Pak Nanang kembali mengambil beberapa merek kretek yang saya tunjuk. Kesempatan terbatas ini tidak ingin saya sia-siakan. Meski saya sempat diberi tahu juga ada beberapa toko lainnya di Jogja yang dirujuk teman saya Irul, pemuda bermarga Siregar yang mengantar saya sesiangan itu. Berhubung waktu yang saya miliki sangatlah terbatas, sebab malamnya saya harus menyiapkan beberapa hal teknis dalam rangka memeriahkan ruang pamer komunitas. Maka saya putuskan untuk membeli sebagian kebutuhan tersebut di toko Pak Nanang.

“Eiya, mbako shag Violin ini Tarumartani juga ya, Pak ?

“Iya. Generasi keduanya Drum.”

“Boleh Pak satu.”

Tak terasa hari sudah lewat Maghrib. Irul mengingatkan saya untuk bersegera menemui seorang teman yang berkali-kali mengingatkan melalui gawainya. Tanpa panjang cakap setelah semua dihitung, kami pun berpamitan dari toko Pak Nanang. Suatu hari jika tak ada aral saya akan sempatkan diri untuk sowan lagi. Bagi teman-teman sesama penghayat kretek dari luar kota seperti saya, yang kebetulan sedang berada di Jogja, dan berkeinginan menambah koleksi sila mampir ke Tobeko Cigarette Store.

(Visited 1,415 times, 18 visits today)

Komentar

komentar

Categories: Ragam