Kehebohan dan segala perdebatan yang mengiringi isu pertembakauan selama ini terjadi bukan tanpa sebab. Persoalan ini terjadi karena masih menduanya sikap pemerintah terkait isu tembakau. Di satu sisi, mereka mengharap penerimaan sebesar-besarnya dari pungutan terhadap industri kretek. Namun di sisi lain, mereka mengebiri tembakau dengan dalih menjamin kesehatan masyarakat. Dan karena sikap mendua inilah perkara pertembakauan di Indonesia tidak pernah reda.

Perdebatan dan keriuhan ini sendiri diperburuk kondisi peraturan tentang tembakau yang tumpang tindih. Negara membuat berbagai peraturan yang memberatkan kondisi industri kretek seperti kebijakan gambar peringatan di bungkus rokok serta kenaikan cukai yang tiap tahun bertambah. Itu belum ditambah berbagai peraturan daerah yang tidak sedikit melenceng dari peraturan dasarnya.

Ada yang tidak mewajibkan keberadaan ruang merokok di tempat publik. Ada yang melarang segala bentuk iklan rokok. Bahkan ada yang melarang penjualan rokok. Hal ini jelas, selain bertentangan dengan landasan peraturannya, juga membuat perdebatan terkait isu tembakau tidak akan selesai.

Bagi para perokok, merokok adalah bagian dari hidup. Sebuah kebutuhan. Jelas mereka mengharapkan ketersediaan ruang merokok yang jelas keberadaannya sebagai upaya melindungi masyarakat yang tidak merokok. Ya, untuk melindungi hak mereka yang tidak merokok. Tapi karena peraturan tidak menjamin itu, juga tidak ada kejelasan ruang dimana mereka boleh merokok, membuat perokok kadang masih sesukanya merokok di tempat publik.

Memang masih ada perokok yang berkelakuan buruk dengan merokok di angkutan umum atau merokok di dekat anak kecil. Tapi itu tidak bisa dijadikan patokan bahwa semua perokok adalah orang-orang yang brengsek. Tidak baik. Dan jahat. Jelas tidak begitu.

Sepanjang hal-hak para perokok ini dijamin, dan pemerintah mampu menciptakan kejelasan ruang, perlahan tapi pasti para perokok akan menjadi sadar akan tanggung jawabnya dengan tidak merokok di sembarang tempat. Tapi hal ini baru dapat terjadi jika pemerintah mau serius membuat peraturan yang menjamin hal tersebut.

Mari belajar dari banyak keluarga kecil yang bisa menjaga kerukunan tanpa meributkan persoalan rokok. Pembagian jatah uang rokok yang tepat, pembagian ruang yang jelas, dan tanggung jawab dari masing-masing anggota keluarga. Tidak melarang anggota keluarganya untuk merokok, selama itu dilakukan di ruang yang telah disepakati. Saling menjaga norma dan kesepakatan yang ada.

Ketimbang kita melulu ribut dan berdebat, jelas lebih baik jika kita mau mengambil jalan tengah yang baik bagi kedua pihak. Toh jika disediakan ruang merokok yang keberadaannya nyaman, saya yakin para perokok akan lebih bertanggung jawab dan tidak lagi mengganggu mereka yang tidak merokok.