Menyikapi April Mop ala Kretekus

Kretekus
Kretekus

April Mop atau April Fool’s Day mengacu beberapa sumber main stream terbilang sebagai hari dimana keisengan berbumbu lelucon, aksi tipu menipu, bahkan jebak-menjebak, sampai kelakar yang paling menghinakan sekali pun halal dilancarkan. Kepada siapa aksi itu sah dilancarkan? Bisa kepada teman, keluarga, tetangga, musuh, pacar, mantan, gebetan, simpanan, peliharaan, pokoknya kepada siapapun sah.

Lepas dari hal-hal klise tentang sejarahnya, yang konon bertolak belakang dengan nilai-nilai budaya Indonesia, dimana kita antar sesama saling menghargai, saling menghormati, saling berbagi, saling mengunjungi. Kecuali antirokok yang terlalu bebal memahami arti toleransi.

Di negeri cegukan ini tidak sedikit masyarakat kita yang alih-alih tak mau ketinggalan trend turut pula merayakan April Mop. Meski sebetulnya dirayakan maupun tidak, tentu tak akan mengubah nasib patung Dirgantara dan patung Sudirman bertukar letak. Juga tidak akan mengubah tanda peringatan di pom bensin menjadi SILAKAN MEROKOK.

Sementara di luar perayaan 1 April itu sendiri, budaya tipu menipu, lelucon klise tentang kesehatan, yang kerap berdalih demi kemaslahatan bangsa lazim terjadi. Lelucon yang melulu di alamatkan kepada tiga kata: tembakau, rokok, dan perokok. Cermati saja bagaimana antirokok memainkan pat gulipatnya yang melecehkan kewarasan kita. Mulai dari memanipulasi hal-hal positif pada rokok sampai usaha menjejali daratan google dengan berbagai muatan negative tentang rokok. Kok bisa? Lha iyes, bagi mereka every mob is april mop.

Btw, Hari Kesehatan Dunia jatuh tanggal 7 April ya? Nah, di tanggal itulah nanti hidangan lelucon terkait FCTC dengan berbagai teknik pengemasan serta berbagai argumen seragam membunyi, mulai dari mendesak pemerintah untuk segera mengaksesi FCTC, sampai upaya penguatan narasi perokok ketiga, kesemua itu menjadi hidangan yang akan menjadi ‘hujan’ merata di berbagai media. Seperti arloji, sejarah mengulang tanda yang sama.

Lalu bagaimana kretekus menyikapi April Mop yang jatuh bertepatan di akhir pekan ini. Banyak hal produktif tentunya yang bisa dilakukan, semisal mengajak teman satu kos untuk menguras bak mandi, membersihkan selokan, atau sekadar berkebun di halaman rumah. Lebih jauh lagi, kenapa tidak silaturahmi kepemukiman orang-orang yang kurang beruntung, untuk sedekah ilmu ataupun buku. Pasti banyak hal-hal yang bermanfaat dari sebuah silaturahmi.

Ya intinya disikapi dengan cara orang Indonesia dalam memaknai nilai-nilai leluhurnya. Ada beragam tradisi kita yang mengejawantahkan nilai-nilai tersebut, yang menjadi cerminan akan keluhuran pekerti bangsa ini. Di daerah pegunungan Sindoro misalnya, ada ritual Among Tebal menjelang musim tanam tembakau. Ada pula ritual Petik Laut atau Rokat Tase di Madura, yang sarat akan nilai-nilai penghormatan manusia Indonesia terhadap kekayaan lautnya. Sebuah bentuk penyampaian rasa syukur atas segala keberkahan di bumi Nusantara.