Pemutaran Film dan Diskusi “Mereka yang Melampaui Waktu”

Rabu, 15 Januari 2014 kemarin, bertempat di Auditorium Institut Francais Indonesia, Jalan Sagan nomor 3, Yogyakarta, Layar Nusa dan Pustaka Sempu bekerjasama dengan Forum Film Dokumenter menggelar pemutaran film dan diskusi “Mereka yang Melampaui Waktu”. Film karya Darwin Nugraha ini diangkat dari buku “Mereka yang Melampaui Waktu” terbitan InsistPress.

Film berdurasi sekitar 20 menit tersebut menarasikan tentang konsep panjang umur, kebahagian, sehat, dan produktif. Para tokoh dalam film dan buku “Mereka yang Melampaui Waktu” merupakan perokok berat yang berusia rata-rata di atas 70 tahun. Kendati sudah berusia lanjut, para tokoh dalam film ini pun tetap sehat dan berkarya. Mereka pun dengan lancar mengisahkan masa lalu dan keseharian dalam menjalani masa tua sembari menyecap rokok di tangan.

Menurut Darwin Nugraha, sang Sutradara, film ini menghadirkan narasi lain tentang konsep kesehatan yang selama ini menjadi kuasa pemerintah dan ahli kesehatan. Sejak diperkenalkannya obat-obatan medis, orang berbondong-bondong untuk menjalani konsep hidup sehat yang didefinisikan secara tunggal. Melalui film ini, Darwin ingin menunjukkan bahwa setiap orang berhak menentukan konsep sehatnya sendiri.

Alih-alih mendukung kampanye pemerintah tentang larangan merokok, film ini justru berbicara lain bahwa kesehatan tidak ditentukan semata-mata oleh rokok. “Tidak ada hubungan antara kesehatan dengan rokok. Narasi tentang larangan merokok sangat masif, tidak hanya di baliho tetapi juga sampai tingkatan petani. Film ini menghadirkan narasi lain,” ujar Darwin.

Selain Darwin, hadir sebagai pembicara, Hairus Salim, pemerhati budaya dan peneliti LKiS; Lono Simatupang, dosen Antropologi UGM. Diskusi dimoderatori oleh Des Christy dari Laura, Antropologi UGM.

Menurut Hairus Salim, tokoh-tokoh dalam mempunyai kesamaan: hidup di desa dan religius. “Saya belajar dari film ini tentang umur panjang, hidup seadanya, sehat, dan bahagia tanpa menghubungkannya dengan rokok,” ujarnya. Iklan larangan merokok, menurut Hairus salim bersifat tautologis. Artinya, ada kondisi tertentu bahwa merokok itu mengganggu kesehatan, akan tetapi bukan satu-satunya faktor. “Dalam kondisi tertentu, itu (iklan) bisa benar, tetapi juga tidak. Film ini melengkapi itu,” tambahnya.

Senada dengan Hairus Salim, Lono Simatupang melihat bahwa tidak ada hubungan langsung antara rokok dengan kesehatan. “Juga, bukan karena rokok yang membuat umur menjadi panjang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan tidak ada hubungan yang terkotak-kotak.

Daru Supriyono dari Komunitas Kretek yang hadir melihat sikap dualisme pemerintah dalam isu rokok. Di satu sisi pemerintah begitu gencar menghadirkan wacana bahaya merokok, tetapi di sisi yang lain mengambil pajak melalui cukai. Iklan larangan merokok, selama ini menjadi bentuk diskriminasi bagi sebagian warga negara. “Tidak ada undang-undang yang jelas tentang larangan merokok. Akan tetapi, anjuran larangan merokok menjadi legitimasi seolah-olah merokok merupakan perbuatan melanggar,” tegasnya.

(Visited 130 times, 1 visits today)