Peran Penting Perempuan dalam Industri Tembakau

Narasi tentang kretek tidak melulu tentang laki-laki. Sekalipun kretek kerap diidentikkan dengan laki-laki, namun banyak juga perempuan yang terlibat dalam narasi tentang kretek di Indonesia. Misalnya, dalam narasi ini, terdapat kisah Rara Mendut yang berjualan kretek berbekas kecup bibirnya. Atau ada Nasilah, istri dari pemula industri tembakau Nitisemito.

Bermula dari dagang warungan, Nasilah menjual kretek dengan resepnya sendiri. Campuran irisan tembakau dan cengkeh kemudian di bungkus dalam kulit jagung kering yang dikeringkan, lalu diikat dengan tali dari benang buatan Nasilah ini mendatangkan banyak pelanggan ke warungnya. Dari awal seperti inilah, suami Nasilah, Nitisemito mendirikan pabrik kretek besar yang menjadi pondasi industri ini ke depannya.

Bukan hanya Nasilah, dalam perkembangan industri ini terdapat ribuan perempuan yang berjasa. Ada ribuan buruh perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik, baik yang besar maupun rumahan. Adapula ibu-ibu yang senantiasa memetik daun tembakau ketika musim panen tiba. Mereka tetap ada dan berlipat ganda.

Para perempuan ini menggantungkan hidupnya bersama daun-daun yang dipetik, kemudian tembakau yang dirajang, dan kretek-kretek yang dilinting. Mereka menghidupi dan menyekolahkan anak mereka dari keringat mereka sendiri, dari hasil bekerja dalam industri tembakau.

Industri tembakau sendiri memang lebih banyak menyerap tenaga kerja perempuan untuk dipekerjakan. Selain untuk menyerap tenaga kerja yang ada di sekeliling pabrik, para perempuan ini kebanyakan berkemampuan rendah hingga jarang diserap oleh industri lain.

Sayang, keberadaan perempuan-perempuan yang bekerja di pabrik kretek kerap dianggap sumbang oleh kelompok anti tembakau. Mereka selalu menilai upah yang diterima para buruh pasti rendah dan tidak bakal cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Padahal, pengajar Universitas Leiden Ratna Saptari menemukan banyak diantara para pekerja perempuan itu menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga. Ia pun menilai kalau peran peremuan begitu besar bagi industri kretek. Setidaknya, Ratna ingin menunjukkan kalau perempuan memiliki peranan yang tidak sepele dalam Rantai Produksi Industri dan narasi soal kretek di Indonesia.

Selama ini perempuan selalu dianggap tidak layak bersanding dengan tembakau. Mungkin, bagi kelompok anti tembakau kretek melulu perkara penyakit. Mereka mungkin tidak pernah melihat kehidupan para perempuan yang menggantungkan hidup mereka dan keluarga dari tembakau.