Anak Petani Tembakau
Anak Petani Tembakau

Tahun lalu sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Human RIghts Watch merilis sebuah video dokumenter tentang pekerja anak di ladang tembakau. Dalam video tersebut, ditampilkan adegan demi adegan anak-anak yang bekerja di bawah panas terik untuk merawat tanaman tembakau. Secara gamblang pula HRW mengkritik kebijakan industri tembakau yang memaksa anak-anak bekerja untuk kepentingan industri.

Dokumenter ini kemudian dibantah dengan hadirnya dokumenter tandingan dengan judul Tabayyun. Dokumenter garapan Narasi Indonesia ini menampilkan beberapa anak dan petani yang muncul di film HRW lengkap dengan bantahan dan kekesalan mereka terhadap film HRW. Dalam Tabayyun, ditampilkan seorang petani yang marah pada HRW karena telah memanipulasi anak-anak untuk kepentingan mereka.

Menurut petani tersebut, apa yang dilakukan anak-anak dalam film tersebut adalah manipulasi. Tak benar jika mereka bekerja di ladang. Kalau membantu orangtuanya mungkin. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak di ladang karena tak paham cara menanam tembakau. Misal, dalam satu fragmen di film HRW, ditampilkan adegan anak perempuan menanam tembakau. Padahal apa yang dilakukannya sama sekali tidak benar. Cara si anak menanam tembakau sama sekali tidak benar.

Tendensi industri tembakau yang mengeksploitasi anak untuk bekerja di ladang tembakau amat terlihat dalam film tersebut. Padahal jika kita melihat apa yang dilakukan kelompok antitembakau yang melibatkan anak-anak sekolah jauh lebih eksploitatif.

Jika anak-anak petani dimintakan bantuan orangtuanya untuk ke ladang, pun tak bakal si anak dizinkan memegang tanaman tembakau. Mengingat tembakau adalah tanaman yang manja, salah sedikit urusan bakal menjadi rumit. Karenanya agak tak masuk akal jika para petani meminta anak-anak untuk mengurus tembakaunya.

Sementara jika kita melihat apa yang dilakukan kelompok antitembakau yang betul-betul memanfaatkan keberadaan anak-anak sekolah dalam kampanyenya, terlihat betul watak eksploitatif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan.

Misalkan memanfaatkan mereka untuk menggrebek warung yang memiliki iklan rokok. Meski secara ‘kampanye’ hal ini amat efektif untuk menarik minat khalayak, tapi apa yang dilakukan kelompok ini justru teramat ekspolitatif karena benar-benar memanfaatkan anak untuk kepentingan tertentu. Dan hal-hal ini kadang dilakukan di waktu yang harusnya terpakai untuk mereka belajar di kelas.

Anak-anak memang harus dijauhkan dari urusan rokok. Apalagi mereka memang masih belum cukup dewasa untuk dapat memilih hendak merokok atau tidak. Kalaupun anak-anak perlu dilibatkan dalam urusan ini, harusnya upaya edukatif terkait rokoklah yang harus didapatkan mereka. Bukannya dengan memanfaatkan tenaga mereka untuk kerja-kerja kampanye.

Sayangnya meski sudah ketahuan jelas memanfaatkan anak-anak untuk kerja-kerja kampanye, kelompok antitembakau tak pernah dikatakan mengeksploitasi anak. Atas dasar dalih melindungi anak-anak, mereka dengan mudah memanfaatkan tenaga anak untuk kepentingan kelompok ini. Padahal ya memanfaatkan tetap saja memanfaatkan. Eksploitasi tetap saja eksploitasi. Jadi siapa yang sebenarnya mengeksploitasi anak?