Selamat Hari (Film) Darah dan Doa

Film Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi) merupakan film Indonesia pertama yang diproduksi studio film lokal pasca Indonesia merdeka, yakni Perusahaan Film Nasional Indonesia. Lalu tanggal syuting film ini, 30 Maret 1950, kemudian ditetapkan Pemerintah sebagai Hari Film Nasional. Film perang bergenre drama ini berlatar era perang revolusi kemerdekaan ini mengangkat aksi long march pasukan divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat. Perang yang mereka hadapi tidak hanya dengan Belanda,  namun dengan para pemberontak juga. Kisahnya berpusat pada karakter Kapten Sudarto yang memimpin divisi bersama sang kawan yang bernama Adam.

Pada film ini, persoalan manusiawi Sudarto terciri dalam kesibukannya menggebet wanita sementara perang sedang berlangsung dan kondisi serba genting. Sepanjang long march ia menjalin asmara dengan dua orang gadis, pertama gadis asing keturunan Jerman, dan satu lagi adalah Widya, seorang perawat, padahal Sudarto sudah beristri. Kelakuannya ini bikin Adam geram, sehingga menimbulkan suasana yang tidak kondusif dalam pasukan karena Sudarto selalu menjadi gunjingan anak buahnya. Dalam sebuah aksi pertempuran, Sudarto kehilangan orang-orang terdekatnya. Sudarto pun sadar bahwa ia melakukan kesalahan.

Di separuh awal film memang sedikit membosankan karena kaburnya fokus cerita. Posisi geografis lokasi cerita hampir tak pernah jelas karena tidak pernah dipaparkan secara gamblang. Namun arah cerita mulai jelas setelah separuh cerita, dengan akhir yang amat mengejutkan. Inti film ini menyinggung keras perpecahan antar satu bangsa yang masa itu menjadi isu besar. Sesama anak bangsa membunuh satu sama lain atas nama kelompok dan dendam.

Ditilik dari teknis sinematografisnya, film ini banyak mengingatkan saya pada gaya sineas kawakan asal Jepang; Kenji Mizoguchi. Tekniknya kaya akan pergerakan kamera, serta komposisi yang kuat, penggunaan long take, serta teknik close up yang jarang banget digunakan. Satu shot di adegan akhir adalah satu contoh sempurna dengan motif yang kuat. Penggunaan setting studio terlalu artifisial berkebalikan dengan penggunaan shot on location-nya yang menampilkan panorama alam perbukitan yang indah.

Sementara dari sisi akting, bagi penonton kekinian boleh jadi dialog dan akting para pemainnya terlihat sangat kaku. Para pelakon layaknya menghapal dialog tanpa ekspresi sewajarnya. Konon, Usmar Ismail sebagai sutradara film ini anti star system. Mungkin, kalau saja lebih menggunakan bahasa lokal (Sunda dan Jawa) seperti terdapat dalam beberapa adegan, film ini bisa lebih baik. Mungkin lho ya…

Film Darah dan Doa adalah satu contoh film Indonesia yang kuat secara tema dan masih relevan temanya sampai hari ini. Pada bagian penutup, sang kapten berpesan dengan terbata-bata, “Jangan diulangi lagi, biar aku saja” seolah ia berbicara pada kita (baca: konsumen tontonan) sebelum ia jatuh mencium tanah, bahwa polemik yang berujung pertumpahan darah sesama anak bangsa cukup disudahi di momen ini saja, dan tak perlu ada lagi persoalan serupa.

Namun sejarah membuktikan, pesan ini ternyata tidak seampuh pesan kampanye rezim kesehatan yang menstigmatisasi perokok sebagai musuh bersama. Memecah-belah nalar berbangsa. Bahkan melecehkan kewarasan kita insan tropis yang guyub ini dengan istilah; perokok aktif dan perokok pasif. Bah ! Dehumanisasi di berbagai lini. Embel-embel yang hanya dibuat-buat dan terus direproduksi.

Terimakasih saya buat Sitor Situmorang yang sudah menuliskan cerita Darah dan Doa ini. Sebuah karya yang terus menginspirasi kami untuk tetap kuat sebagai bangsa.