Saat Panen Cengkeh Tiba

Di atas kapal ‘Kie Raha’, Elis Ode Musa. bergegas menyudahi makan siangnya. Hari itu, Senin, 16 September 2013, kapal akan segera sandar di pelabuhan Tikong. Perempuan berumur tiga puluh tujuh tahun itu, seorang pedagang pakaian dari Makassar. Sudah sepuluh tahun menempuh perjalanan laut, membawa berbal-bal pakaian ke Taliabu tiap musim cengkeh tiba. Modalnya yang terputar karena jarak kebun cengkeh cukup jauh dari perumahan, warga di Kecamatan Lede, Kabupaten Taliabu, Maluku Utara menggunakan sepeda motor untuk mengangkut hasil petik cengkeh ke rumah masing-masing untuk kemudian dipatahkan gagangnya. Sebelum harga cengkeh naik, warga menggunakan kuda atau memikul hasil panen tersebut.

Kali ini sudah mencapai lima puluh juta rupiah. “Kadang-kadang tidak semua barang yang dibawa habis. Tapi setengah musim sudah bisa balik modal. Kadang juga sampai tiga kali bolak-balik ambil stok dari Makassar. Kalau semuanya habis, bisa dapat seratusan juta lebih,” katanya.

Tak hanya di Tikong, ada juga yang dititipkan pada kerabatnya di Lede. Keuntungan berjualan di sana, meski hanya sekali setahun lumayan besar dibanding berjualan di tempat lain. Dengan keuntungan yang diperolehnya selama ini, Elis berhasil membuka dua toko pakaian di kampungnya, Sidenreng Rappang dan Enrekang, Sulawesi Selatan. Uang hasil berjualan itu juga yang membuatnya bisa menyekolahkan anaknya di Jakarta. Harga per potong pakaian dijual dua atau tiga kali lipat dari harga pasaran. “Baju yang dijual tujuh puluh lima ribu di Makassar, paling murah dijual seratus lima puluh ribu di sana.” katanya dengan senyum menggaris di wajahnya.

***

Di Desa Kramat, Kecamatan Taliabu Barat, pedagang Bugis biasanya tiba lebih awal. Datang dalam kawanan yang berjumlah sepuluh sampai empat puluhan orang. Mereka umumnya menjual pakaian, sarung dan karpet. Yang paling diminati pembeli adalah karpet. Harga selembar karpet yang biasa dijual Rp 500.000 di Makassar, paling murah dijual Rp 1.200.000 di sini.

Sudah puluhan tahun mereka menjalankan ekspedisi itu. Tak pasti sejak kapan mulainya. “Yang jelas, banyak memang mi waktu saya masih kerja bagang taun lapampuluang,” kata Jamal Pagga (42) dengan logat Wajonya yang masih kental. Mereka mengendarai motor dan menggandeng dagangannya keliling. Singgah di desa-desa yang sedang panen, tinggal beberapa minggu, lalu pergi lagi ke daerah lain. Kadang kalau beruntung, bertemu sesamanya perantau Bugis seperti Pak Jamal ini. Mereka bisa berpangkalan di situ.

Atina, istrinya, sangat senang kalau mereka datang. Dengan sukarela Atina mengabarkan kedatangan para pedagang ke teman atau tetangganya. “Biasa sampai sepuluh pedagang di sini yang kumpul. Mereka juga senang karena di sini kita pung paitua juga kan orang Bugis, terus dorang juga tidak susah-susah lagi pergi belanja,” ujarnya. Di kala musim panen cengkeh, para ibu menjadi gila belanja.

Atina membeberkan kalau ternyata ibu-ibu sampai harus mencuri-curi cengkeh dari suaminya sendiri kalau belum punya uang dan pedagang sudah datang. Cengkeh yang ‘dicuri’ biasanya yang masih terkumpul di terpal. Mereka juga tidak berani mengambil cengkeh yang sudah dikarungkan. Pasalnya, mereka pasti akan ketahuan suami dan kena marah kalau mengambil cengkeh di dalam karung. ”Pasti dorang pu suami langsung tahu kalau ambe yang di dalam dalam karung. Itu cengkeh kan kalau sudah di karung berarti dorang pasti su tau berapa kilo atau berapa liter isinya,” terangnya. Biasanya cengkeh yang sudah dikarungkan juga berarti siap untuk dijual.

Hal yang sama berlaku di semua desa penghasil cengkeh seperti desa Lede, Tikong, Sahong, dan Nggele. Warga yang tiba-tiba menjadi sangat konsumtif menjadi magnet bagi para pedagang luar. Uang cengkeh mereka sebut ‘uang panas’. Disebut begitu karena seberapa pun banyaknya, tak terasa habis dalam waktu singkat. “Bawa cengkeh ke Luwuk dua ratus kilo. Hantam semua. Pakai beli barang mati, beli kursi, beli televisi, beli motor. Itu makanya uang cengkeh biasa kita sebut uang panas, barang satu tahun tara sampe.

Biarpun kita bawa uang berapa banyak, di sana pakai beli semua. Sampai biasa kita kehabisan uang, paceklik begitu. Kalau sudah begitu tunggu lagi tahun depan, dapat lagi, habis lagi.” kata Surpati (43) saat ditemui di rumahnya di Lede. Di musim panen, dagangan apapun laris manis. Terbeli tanpa tawar menawar yang alot. Gaya belanja seperti itulah yang menarik banyak penjual dari luar berdatangan.

Selain dari Sulawesi, ada juga rombongan pedagang yang datang dari Kerinci, Sumatera Barat. Setiap rombongan adalah satu keluarga yang biasanya berjumlah empat sampai sepuluh orang. Masing-masing membawa modal dua puluh juta. Lima belas juta untuk barang, lima juta untuk ongkos selama tiga bulan. Awalnya hanya berjualan jam tangan dan kacamata. Dari pengalaman mereka belajar, ternyata petani lebih membutuhkan lampu dan hiburan. Kali ini Des Rizal (27) dan rombongannya membawa empat dos besar senter dan lampu re-chargable, speaker memory, dan jam tangan. Satu senter panjang yang berfungsi ganda sebagai speaker portable dijual dengan harga Rp 500.000.

Dari pengalamannya berdagang selama ini di Maluku, maka di Taliabu yang paling baik menurutnya. Dibanding daerah tambang, Rizal lebih menyukai berdagang dengan para petani cengkeh. Aprianto (42), temannya, mengakui hal yang sama “Kita pun merasa terharu nengok penghasilan orang tu. Kita pun meliat orang di sana yang punya penghasilan cengkeh sikit saja, tapi kita tengok orang itu

gembira,” katanya.

***

Tiap tahun, saat musim panen menggeliat di bagian utara pulau, ribuan orang hilir mudik dari satu desa ke desa lain. Orangorang menyebutnya ‘daerah dolar’. Seperti berjodoh, petani yang panennya melimpah sangat membutuhkan jasa para pemetik cengkeh. Mereka yang tak memiliki kebun, berdatangan untuk makan gaji di sana sebagai pemetik upahan. Kebanyakan pekerja datang dari luar provinsi seperti dari Manado, Gorontalo, dan Buton. Pekerja lokal juga umumnya berasal dari bagian barat seperti Desa Kuwalo dan Bobong.

Menurut Darlin Hamsale (37), pemanjat terbaik rata-rata berasal dari Manado. Merekalah yang biasanya ditawar dengan harga tinggi saat panen paruru (penghabisan). Biasanya petani menaikkan upah mereka menjadi Rp 6.000 – 7.000 per liternya. Petani pemilik menyukai mereka karena kerjanya cepat dan bisa mengumpul dalam jumlah besar. Mereka biasanya mematahkan cengkeh langsung dari gagangnya di atas pohon. Upah yang mereka peroleh sebesar Rp 5.000 untuk satu liter cengkeh yang dipetik.

Soal upah, sebetulnya sudah ada ketentuan desa yang mengaturnya. Alasannya, agar petani tidak saling berebut pekerja lantas seenaknya menentukan upah. Tapi, peraturan itu tidak sepenuhnya berlaku dalam praktinya di lapangan. Petani pemilik dan pekerja memilihbermain sendiri. Petani rela menaikkan upah, sebab bunga cengkeh jika sudah pecah akan menjadi polong jika tak segera dipetik dalam waktu sebulan. Sementara jumlah pohon yang mereka punya tidak sedikit. Jika peraturan itu benar-benar diberlakukan, banyak Selepas sekolah atau saat libur, anak-anak banyak yang ke kebun untuk memunguti cengkeh yang jatuh di tanah semasa panen.

Dalam satu hari mereka bisa mengumpulkan 5-10 liter dan hasil penjualannya dianggap sebagai uang jajan tambahan dari orang tua atau kerabat mereka. Petani yang takut tidak bisa memanen cengkeh mereka karena standar upah yang ditentukan peraturan desa hanya sebesar Rp 4.500 saja. Masih di bawah harga standar, dan para pemetik pasti tidak berminat.

Tak hanya pemilik kebun dan buruh yang bisa memanen berkah cengkeh. Anak kecil bahkan bisa punya uang sendiri dengan bajatunjaha, istilah lokal yang berarti memungut cengkeh yang jatuh dari pohon. Di musim panen, tiap hari mereka bisa memegang uang Rp 50.000 – 100.000 dari hasil kerja mereka sendiri. Tak ada larangan bagi siapapun yang mau mengambil sisa cengkeh yang berhamburan di tanah. Seperti berbagi berkah, kata Dalin. “Yang di pohon saja kita tidak bisa petik semua, apalagi yang di bawah,” terangnya.

Ibu-ibu juga banyak yang bajatunjaha. Biasanya, jika mereka tidak bisa panen pohon cengkeh sendiri musim itu, atau atau panennya sudah selesai dan hasilnya sedikit. Menurut Surpati, orang yang paling kuat bajatunjaha paling banyak bisa mengumpul 15 liter per hari. Kegiatan itu dilakukan dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore. “Saya saja, kalau dihitung-hitung, musim ini sudah hampir dapat tiga puluh kilo,” katanya. Tiap harinya jika tak ada kegiatan, mereka datang ke kebun orang-orang yang dekat dengannya, seperti kerabat atau tetangga. Kadang mereka izin dulu pada pemiliknya, kadang juga tidak. “Nanti kalau ketemu di kebun baru kita bilang.” jelasnya.

Tak mengherankan bila mereka bisa membeli berbagai barang, meski harganya berlipat-lipat. Kalau di musim panen anak kecil saja punya uang jajan puluhan ribu, apalagi orang tua mereka.

Diambil dari buku Ekspedisi Cengkeh