Rokok pada Perhelatan Rambu Solo’ dan Rambu Taka’

Rokok Rambu Solo

Adalah sebuah kehormatan bagi empunya rumah ketika para tamu menerima dan membakar rokok yang diberikan. Hal itu lazim terjadi pada acara adat Rambu Solo’ (acara keriaan) maupun Rambu Tuka’ (acara kedukaan). Kedua acara di Tana Toraja ini masih berlaku adanya. Seperti lazimnya pada prosesi Mangimbau Urang yang berlaku di Minangkabau. Rokok menjadi bagian yang tak terlewatkan saat mengundang para tetamu untuk menghadiri acara yang akan dihelat.

Rambu Solo’ biasanya dihelat oleh satu rumpun keluarga, perhelatan ini membutuhkan banyak tenaga hingga materi. Golongan acara yang termasuk dalam acara Rambu Solo’ antara lain; (1) Upacara penguburan jenazah, (2) Upacara pemindahan makam, (3) Seroi Lo’ko’ (upacara nyekar goa tempat pemakaman leluhur), dan seterusnya.

Kedua acara tersebut, baik Rambu Solo’ maupun Rambu Tuka’ tidak boleh diberlangsungkan bersamaan. Perayaan yang bersifat suka ria dan perayaan duka tentu tidaklah elok dicampur aduk. Itu adalah konsensus adat yang dipegang teguh masyarakat Toraja pada umumnya. Demi menjaga kelangsungan tersebut ada pihak yang disebut penghulu adat, yang di dapuk secara adat oleh masyarakat. Yang bertugas memberi arahan kepada masyarakat umum. Beberapa penghulu adat itulah yang akan senantiasa menjaga pakem adat berlangsung pada koridornya.

Acara Rambu Tuka’ dan Rambu Solo’ sudah pasti dihadiri oleh banyak orang. Semua orang yang hadir merupakan rumpun keluarga, sahabat, kenalan ataupun kerabat keluarga. Berdasar kebiasaan yang  telah membudaya, mereka yang hadir diperlakukan layaknya tamu oleh keluarga/rumpun keluarga yang melangsungkan acara. Dengan demikian, kebutuhan konsumsi hingga akomodasi tetamu merupakan tanggungan keluarga/rumpun keluarga yang punya hajat.

Rambu Tuka’ sebagaimana istilah di tanah Jawa semacam acara syukuran. Acara yang dilangsungkan untuk merayakan kebahagiaan atas suatu keberhasilan. Golongan acara yang masuk dalam acara Rambu Tuka’ antara lain; (1) Syukuran keluarga, (2) Mangrara Banua (peresmian rumah/kediaman), (3) Syukuran panen padi, (5) Ibadah Natal Keluarga, dan seterusnya.

Pada kedua acara tersebut, sang empunya hajat haruslah ada yang bertindak sebagai penerima tamu. Sang penerima tamu inilah yang akan menyambut kedatangan para tamu yang memasuki pelataran rumah. Selain bertugas mengantar mereka ke tempat duduk, penerima tamu ini juga yang memberi rokok kepada mereka. Biasanya rokok diberikan kepada tamu laki-laki, dan kepada tamu perempuan biasanya dijamu dengan pangngan (pinang dan sirih) dan mereka dijamu oleh keluarga perempuan.

Meskipun ada di antara para tamu yang tidak merokok, rokok yang diberikan sang empunya hajat tetaplah diterima. Saat para tamu perokok memantik rokok dan menghisapnya. Tamu yang tidak merokok biasanya turut memantik rokok, namun hal ini  dilakukan sebatas penghormatan semata. Tetap membaur tanpa sekat. Lepas Satu-dua kali isapan rokok itu kemudian rokok ditaruh, dan dibiarkan ngebul begitu saja di asbak sampai habis dengan sendirinya.

Menilik bentuk penghormatan pada acara semacam ini tentulah berbeda dengan yang berlaku pada kearifan lokal di lain tempat. Misalnya saja jika kita menengarai kecenderungan orang kekinian yang masuk golongan antirokok, biasanya malah mengambil sikap yang kurang elok. Tidak sedikit dari mereka yang menyingkir alias tidak mau membaur dengan perokok. Bahkan ada juga berlaku intimidasi dengan menunjukkan ekspresi ketidak-sukaannya.

Sangat disesalkan jika ada orang Indonesia yang punya sikap semacam itu. Seakan-akan merokok disetarakan dengan aktivitas yang tidak berbudaya. Mengancam hajat hidup orang lain. Apalagi sampai menyatakan rokok itu barang haram. Yang biasanya disertai dengan berbagai argumentasi yang melecehkan kewarasan. Padahal rokok sudah menjadi bagian dari simbol penghormatan, pada berbagai acara adat Nusantara, baik acara keriaan maupun kedukaan. Sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain di dalamnya sudah menjadi teladan sejak lampau. Sudah menjadi nafas keseharian orang-orang terdahulu dalam menjaga nilai-nilai kearifan bangsanya, semoga pun kita generasi kekinian.