Sejarah Pemimpin Kita adalah Perokok

Soeharto merokok
Soeharto merokok

Rokok bagi para penikmatnya ibarat teman sejati. Kemanapun pergi, bungkusan yang berisi produk hasil olahan tembakau itu selalu dibawa. Sebaliknya, bagi yang anti, rokok ibarat monster maut, yang setiap saat menebar ancaman kematian bagi siapa saja yang menghirup asapnya. Asal kalian tahu, para pemimpin kita terdahulu adalah perokok. Memang, di antara mereka ada yang sempat berhenti, ada juga yang merokok sampai mati.

Sayangnya, entah kenapa ketiga presiden terakhir republik ini tidak punya kenangan manis dengan rokok. Megawati sudah jelas-jelas benci sama rokok. SBY apalagi, rokok dianggap barang terlarang dikonsumsikan di sekitar lingkungan istana kepresidenan. Sedangkan Jokowi, rokok dianggap sumber kemiskinan dan tidak memberi kesehatan bagi tubuh.

Tapi enggak masalah, toh para pemimpin terdahulu kita adalah orang-orang yang punya cerita manis dengan rokok. Diramu dari berbagai sumber, kisah di bawah ini menjadi bukti bahwa mereka adalah perokok.

SOEKARNO

Soekarno dan rokok itu sudah tidak diragukan lagi keabsahannya. Foto-foto dirinya saat merokok sangat gampang dicari. Rokoknya States Express atau sering dikenal dengan sebutan “555”. Maklum, pada 1905-1920 kebanjiran rokok impor Amerika di Hindia Belanda, salah satunya yang jadi kegemaran banyak anak-anak muda saat itu adalah Lucky Strike. Termasuk Bung Karno. Sejak kecil sudah akrab dengan bungkus rokok Lucky Strike. rokok Lucky Strike digemari Bung Barno karena sering memuat gambar-gambar bintang film saat itu.

Sukarno kecil sering berlagak jadi aktor Amerika. Inilah yang kemudian membentuk aksi teatrikal Sukarno dalam ruang publik dan usahanya mempengaruhi masa. Sukarno mulai senang merokok 555 karena sering melihat Dasaad. Sebelum merokok 555, Bung Karno sendiri suka merokok merek Tjap Bal Tiga bikinan Nitisemito.

Kegemaran merokok Sukarno ini pernah dikritik Aidit. Saat itu perayaan hari ulang tahun PKI di Senayan. Aidit kala itu menegur Bung Karno:

“Paduka baiknya mengurangi rokok, saya ini tidak pernah merokok, senang latihan tinju dan badan saya segar,” kata Aidit sambil mengepalkan tangannya bercanda depan Bung Karno.

“Aku merokok ini supaya revolusi jalan, Mad” jawab Sukarno memanggil Aidit dengan sebutan Ahmad—nama kecil Aidit.

SOEHARTO

Lain Soekarno, lain Soeharto. Semasa tinggal di Jalan Haji Agus Salim Menteng, tepatnya semasa masih jadi Jenderal biasa, Soeharto suka merokok Dji Sam Soe, Pak Harto sendiri mulai merokok sejak usia 15 tahun. Kala itu Soeharto mulai merokok pertama kali di Kebun Tebu, dekat Pabrik Gula Rewulu, Yogyakarta. Konon, dalam banyak pemahaman budaya di Jawa, merokok dianggap sebagai bagian dari seseorang yang telah dewasa, sebagai bagian dari lelaki yang sudah bisa cari duit sendiri.

Sama seperti Bung Karno, Soeharto juga amat gemar cerutu, hal yang paling ia nikmati saat menghisap cerutu adalah saat memancing. Merokok sambil baca koran tiap sore sudah jadi kebiasaan Soeharto. Aktivitas itu ia lakukan sejak jadi Panglima di Semarang.

BJ HABIBIE

Banyak orang bilang kalau mantan Presiden BJ Habibie itu tidak pernah merokok. Ternyata BJ pernah menghisap rokok saat sedang mendalami suatu rumus yang harus ia pecahkan soal pengaruh arah angin dan ekor pesawat, atau yang masif disebut banyak orang dengan sebutan ‘Factor Habibie’. Pak Habibie merokok untuk melancarkan daya pikir. Ia berhenti merokok saat istrinya Ainun mencium bau rokok yang melekat di bajunya. Ainur tidak suka dengan bau rokok. Cinta memang mampu merelakan segalanya.

GUSDUR

Gus Dur suka merokok sejak masih jadi santri. Beberapa kisah soal rokok memang begitu menggelitik. Ketika mondok di Tambak Beras, di bawah asuhan Kyai Abdul Fattah (keponakan Kiyai Wahab Hasbullah) Gus Dur sempat jadi Kepala Keamanan. Pada suatu malam Jumat, Kepala Keamanan ini malah mberot dari pondok untuk nonton bioskop. Ketika balik ke pondok, kebetulan pas mati listrik. Pondok gelap-gulita. Terlihat lamat-lamat api rokok menyala di serambi langgar. Gus Dur mendekat, yang punya rokok tak tampak wajahnya dalam gelap.

“Sak sedhotan, Kang (minta menghisap rokok itu walau cuma satu sedotan)”, kata Gus Dur,. Rokok pun diulungkan.

Gus Dur menghisap satu sedotannya dengan sedotan yang panjang. Karena disedot panjang-panjang, bara rokok pun membesar, menerbitkan sebersit cahaya. Dengan sebersit cahaya itu, tampaklah samar-samar wajah si pemilik rokok yang ternyata… Kyai Fattah!

Gus Dur kaget dan spontan melarikan diri. Kyai Fattah mengejar di belakangnya, “Rokokku! Rokokku!”

Begitulah Gus Dur dan kisah rokoknya. Belum lagi saat dirinya belajar di Mesir. Gus Dur bila mau menonton film sudah pasti merokok terlebih dulu. Tandemnya yang suka merokok saat itu Kyai Mustofa Bisri (Gus Mus), mereka berdua juga kalau kemana-mana sering merokok sambil iseng ngerjain mahasiswa yang baru datang ke Mesir.

Itulah beberapa kisah para pemimpin negeri ini yang bisa Anda ceritakan ulang saat Anda segan akan meminjam korek atau meminta rokok. Acuhkan apa kata Jokowi, itu hanya penghibur buat para antirokok. Toh pada kenyataannya Jokowi memerlukan para perokok macam Susi Pudjiastuti dan para menteri perokok lainnya.