Seandainya Semua Petani Seperti Komang Armada

Komang_Armada
Foto: munduk.co

Nafas saya hampir habis ketika kami baru tiba di tempat peristirahatan. Kepala saya sakit, semua darah sepertinya sedang menyerbu ke otak. Beruntung waktu istirahat kami disuguhi kelapa muda serta nasi ayam campur, kalau tidak bisa jadi saya bakal pingsan sebelum keluar dari kebun.

Kala itu, saya beserta tim ekspedisi Munduk tengah diajak mengelilingi perkebunan cengkeh. Saya pun tahu kalau jalur yang kami tempuh terjal, panjang dan menanjak. Yang saya tidak tahu, ternyata latihan saya naik turun jalanan desa Munduk selama seminggu belum ada apa-apanya ketimbang jalur yang kami tempuh.

Ya, hari itu kami tengah mengelilingi kebun cengkeh seluas 2,5 hektar milik Komang Armada, seorang petani cengkeh di desa ini. Sebagai bagian dari proses pemahaman kami terhadap cengkeh, kami diharuskan ikut beliau ke kebun sembari mempelajari seluk-beluk budidaya dan permasalahan pada komoditas ini. Beruntung, kami menemukan orang yang tepat untuk ditanyai.

Sepanjang perjalanan keliling kebun, Bli Komang terus berbicara soal keadaan pohon cengkehnya. Sejak awal masuk ke kebun, kami diberitahu bagaimana caranya menanam kembali pohon cengkeh dengan cara menyulam. Itu loh, menanam bibit cengkeh baru di samping pohon yang mulai tidak produktif.

Kebanyakan pohon yang ada di lahannya telah ditanam sejak tahun 1970-an, karenanya sudah ada yang tidak produktif karena sebab-sebab tertentu. Misal terkena penyakit jamur akar atau hama ulat pengerek batang. Selain itu tidak produktifnya pohon juga bisa terjadi karena jarak tanam yang terlalu mepet hingga percabangannya tidak tumbuh baik.

Kalau sudah begitu, Ia menyiapkan bibit cengkeh yang ditanam bersamaan dengan satu tanaman lain, agar nantinya ada dua akar tanaman yang bisa mencari makanan untuk kesuburan cengkeh. “Kalau sudah mulai tumbuh, batang tanaman yang satunya kita potong terus hingga akan dimatikan jika pohon cengkehnya sudah berusia satu tahun,” jelasnya sembari menunjukkan bibit yang belum lama ditanam.

Pengetahuannya soal cengkeh ditempa oleh kecintaannya pada komoditas ini sejak masih kecil. Ia mengaku kerap diajak bapaknya ke kebun sedari kecil. Dan dari sanalah kecintaannya pada cengkeh mulai tumbuh.

Sebelum benar-benar menggeluti dunia cengkeh, Bli Komang sempat melanjutkan sekolah ke Yogyakarta sebelum akhirnya pulang ke Munduk pada tahun 1994. Setelah pulang, Ia pun tak langsung bergelut dengan cengkeh. Maklum, waktu itu komoditas ini tengah hancur citranya karena keberadaan Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh bentukan orba. Barulah ketika BPPC bubar dan harga cengkeh naik, Ia kembali ke dunia yang dicintainya ini.

Melalui perkenalan dengan dunia internet, ia berselancar mencari ilmu baru yang bisa diterapkannya di kebun. Dan berbekal pemahaman yang Ia miliki, eksperimen demi eksperimen dilakukannya untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Menurut cerita orang-orang, cengkeh adalah tanaman yang tidak perlu banyak dirawat. Setidaknya, cengkeh hanya perlu diurus dua kali setahun dengan cara membersihkan kebun dan memberikan pupuk pada pohon yang ada. Tidak perlu sering-sering ke kebun, apalagi sampai tiap hari berangkat.

Mungkin, kalau ada orang yang hampir setiap hari ke kebun dan gemar sekali mengurus tanamannya ya cuma Bli Komang lah orangnya. Selama di Munduk, saya bertemu beberapa orang yang biasa terlibat di dunia cengkeh. Dan dari beberapa orang tadi, nama Komang kerap disebut sebagai petani yang kelewat rajin merawat cengkehnya.

Dalam kesaksian seorang pemetik cengkeh bernama Putu Ranggi, Bli Komang dinilai serius merawat kebunnya. Jika petani lain melakukan pemupukan dan pembersihan kebun dua kali setahun, Komang bisa melakukannya tiga kali atau malah lebih. “Kalau Pak Komang mah rajin,” terangnya.

Mungkin karena intensitasnya yang tinggi untuk pergi ke kebun, serta eksperimen yang kerap dilakukan, Bli Komang secara tidak sadar telah menjadi orang yang ahli dalam urusan budidaya cengkeh. Ketika masih banyak petani di desa Munduk yang mengikuti arahan penyuluh pertanian lapangan, Komang lebih memilih caranya sendiri untuk merawat kebun yang Ia miliki.

Ketika masih banyak petani menggunakan pupuk kimia (yang katanya dijual PPL tadi), Komang telah menggunakan pupuk alami hasil eksperimennya untuk menyuburkan pohon cengkehnya. Ketika orang-orang masih menekankan pertumbuhan tanaman pada pupuk, Komang telah berupaya memperbaiki tanamannya dari penyakit dan hama. Hasilnya, panen di kebun miliknya terbilang melimpah.

Sebagai perbandingan, ketika banyak sekali petani gagal panen karena pohon cengkehnya tak berbunga, Komang masih bisa meraup panen meski jumlahnya hanya 10% produktivitas tahun lalu. Dengan lahan seluas 7 hektar, Komang mengaku pernah mendapatkan panen sebanyak 13 ton. Itulah jumlah panen terbesar yang pernah Ia rasakan hingga sekarang.

Mungkin jika semua petani serajin dan seberani Bli Komang, produktivitas cengkeh yang ditanam petani Indonesia bisa meningkat pesat. Tak lagi persoalan kekurangan stok cengkeh terjadi di negara kampung halaman komoditas ini. Dan kualitas tanaman dapat terjaga agar para petani tak lagi dirugikan harga rendah karena kualitas yang dianggap kurang baik.

Balik lagi ke kebun, kembali ke hadapan makanan yang sudah tandas, saya baru tersadar kalau perjalanan yang kami tempuh barulah setengah jalan. Kami masih harus menapaki jalan menanjak untuk kembali ke penginapan tempat kami bermukim. Mental yang baru sedikit pulih harus kembali dibenturkan pada kenyataan, urusan tanjak menanjak belum selesai dan nggak bakal ada yang gendong saya kalau pingsan. Karenanya saya harus kuat.

Dalam perjalanan kembali ke penginapan inilah Bli Komang menunjukkan beberapa pohonnya yang terkena penyakit dan hama. Untuk menangani hama ulat, Bli Komang biasanya memantek bambu yang telah diolesi detergen cair ke batang yang terkena hama. Syarat utama dari cara ini alah jangan sampai ada celah udara yang masuk, jadi saat memantek harus dipastikan bambu tertancap dengan mantap dan rapat.

Sementara untuk jamur akar, penanganan yang dilakukan adalah membersihkan akar pohon yang tampak di permukaan tanah dengan kuas sembari dikucuri air bersih dicampur dengan kapur dolomit. Jika mendesak, penyiraman fungisida baru dilakukan.

Setelah perjalanan ini rasa-rasanya saya perlu memusnahkan keinginan jadi petani dari kepala saya. Bayangan asik ketika mau makan tinggal ambil di kebun, lelah sehabis bekerja duduk-duduk manis sambil ngopi ngerokok menghadap hamparan tanaman, dan yang terpenting kerja bebas merdeka tidak diatur oleh tuan hancur sudah oleh perjalanan ini. Ternyata jadi petani itu tidak pernah mudah. Apalagi kalau jadi petani yang kayak Bli Komang.

Harus sering-sering ke kebun buat memantau pertumbuhan tanaman. Waspada terhadap penyakit dan hama. Perlu segera menangani pohon yang kena penyakit dan hama dan jaga-jaga jangan sampai menular dan mewabah ke semua pohon. Menyiapkan bahan untuk membuat pupuk alami serta menghabiskan waktu untuk perawatan semua pohon di tanah seluas 7 hektar. Tentu saya nggak bakal sanggup mengikuti jalan petaninya Bli Komang.

pernah terbit di munduk.co

(Visited 3 times, 1 visits today)