Yang Bajingan dari Pengguna Vape

Ada dua hal absurd yang bikin saya kadang geli sendiri kalau ketemu pengguna vape. Pertama, di mana asiknya mengebulkan asap yang sampai menutupi muka sendiri itu, bahkan kadang muka temannya sendiri. Kedua, apa dengan menghisap vape berarti mereka sudah nggak enjoy lagi menghisap rokok tembakau? Khusus yang kedua jawabannya ternyata tidak. Ada juga kok yang tetap membawa rokok. Yang bagi para pavorizer disebut ‘analog’, merujuk pada rokok tembakau.

Pernah sekali waktu, saya terlibat dalam pergunjingan tentang jenis kesenangan yang lagi hype itu. Iya seputar kenikmatan yang mereka dapat dari aktivitas meracik liquid sampai perkara mengebulkannya. Ada beberapa pernyataan yang sama terlontar dari orang yang berbeda, bahwa vape itu lebih sehat dari rokok. Dengan tiga alasan yang sama bunyinya, pertama, mereka mendaku bukan menghisap asap, melainkan uap. Iya, oke. Kedua, nikotinnya rendah dan bisa disetel alias diatur sesuai keinginan pengguna. Tapi belum tentu bisa menyetel hasrat pamer dan pengeluaran. Dan ketiga, vape tidak meninggalkan bau tidak sedap kayak rokok. Nah ini.

“Anak saya itu, Mas. Kalo saya habis ngerokok dia gak mau digendong. Beda kalo saya habis nge-vape.” Kata seorang pavorizer dalam pergunjingan itu. “Vape itu lebih ramah dan wangi fruity, anak-anak suka wangi begitu.” Lanjutnya lagi. “Kalo mase penasaran, saya ajak nanti nge-vape bareng di Movi, rokoknya mas boleh ditukar cuma-cuma dengan vape dan pritilannya.” Hasut pavorizer itu antusias.

Saya bukan tidak pernah mencoba, sekali-dua iya pernah. Dan sulit mendapat kesenangan dari situ. Barangkali karena saya tipe orang yang, kalau kata people zaman now: susah move on. Hehe. Maklum sifat sentimentil saya lebih tinggi dari rasa bangga saya pada hal-hal sepele yang saya bisa berikan buat negara. Ini serius, saya bangga bisa bayar cukai rokok yang dapat membantu kelangsungan pembangunan republik, bahkan dari situ pula BPJS terbantukan oleh para perokok macam saya. Boleh deh nyombong dikit.

Haiya, saya sih nggak keberatan kalau ada pavorizer yang baru kena injeksi mitos tentang vape lantas jadi markom puritan gitu. Meninggikan nilai vape yang wangi, bahkan digadang-gadang lebih hemat dari rokok. Iya sih sah-sah saja. Tapi perkara mengonsumsi vape yang cairan liquidnya paling murah di kisaran 100 ribu itu, bahkan sampai berulang disebut lebih sehat dari rokok. Itu yang bajingan. Wong, masih sama-sama golongan orang yang dimusuhi rezim kesehatan kok ya malah jelek-jelekin sesama ‘ahli hisap’. Untuk yang suka menjelek-jelekkan rokok gitu, saya cuma nyeletuk, “biarin gak sehat, yang penting bisa nyumbang cukai, bos.”

Itu satu, lainnya yang tak kalah bajingan. Banyak orang tentu tahu, perokok itu kerap kali dimarjinalkan dari ruang bersama. Bahkan hak atas pengadaan ruangnya pun diabaikan para pihak. Sebaliknya pengguna vapor ada yang seenaknya aja gitu ngebul sambil jalan di selasar mall, dalihnya apa coba kalau ditegur petugas, “kita ngisap vapor, pak, bukan rokok.” Haish, ndasmu melutruk! Kalau kata kawan seniman grafis pada ruang pergunjingan yang lain.

Di situ bajingannya, kalau perokok dicap tidak sehat, terus mereka yang merasa lebih sehat lantas boleh ngebul semau-maunya di mana pun tempat. Apa itu artinya coba, kalau bukan itu kecongkakan yang merendahkan sesama.

Padahal nih ya, di Singapura, Brunei, Thailand, dan Kamboja, penggunaan cairan vape itu masuk kategori yang merugikan kesehatan. Bagi penjual dan penggunanya sama-sama dikenakan sanksi denda ratusan dolar. Artinya apa? Iya nasib mereka mirip-mirip sama perokok ‘analog’. Jadi nggak usah juga merasa lebih sehat. Wong musuhnya sama kok, rezim kesehatan. Kalau masih juga merasa lebih sehat, iya tinggal diabsurdin aja. “Pastinya lebih sehat replika Garuda di kelurahan, bos, biar kena asep fogging tetep gagah.” Biar sama-sama ngakak deh sekalian.

(Visited 846 times, 27 visits today)