Merokok Sebagai Bagian dari Ibadah Kultural

  • 113
  •  
  •  
  •  
  •  
    113
    Shares

Sebagaimana dzikir, setiap tarikan dan klepusan orang merokok adalah sebagian dari upaya mengingat. Tak terelakkan, anugerah alam yang diberikan sang pencipta menjadikan Indonesia negeri yang subur, dan terbuka ruang reflektif bagi kita ketika mengingat pula kaitannya dengan nilai kesejahteraan yang didapat dari keberadaan budaya kretek, serta manfaat lain dari yang tumbuh melengkapi. Telah kita ketahui, sejak dulu cukai yang diserap dari industri rokok Indonesia ini terserap untuk memenuhi target pembangunan.

Keberadaan industri kretek dari hulu sampai hilir memperlihatkan adanya mata rantai ekonomi-budaya yang saling menghidupi, tak terkecuali. Bahkan pada wilayah hilir, yakni konsumen kretek. Aktivitas mengonsumsi produk legal ini telah mencipta satu berkah sosial. Bayangkan saja, dari sebungkus rokok yang diletakkan pada sebuah perhelatan telah mampu mempertalikan rasa ke-Indonesiaan dari berbagai etnis di masyarakat, bahkan mampu mencairkan komunikasi antar generasi. Terlepas dari apa merek rokoknya.

Seperti halnya tradisi yang masih terselenggara di masyarakat Jepara, ketika ada kerabat mereka yang tengah melangsungkan hajatan. Para kerabat yang lain datang menyumbang satu pres rokok ketimbang menyumbang uang, hal ini bukan berarti uang tidak berharga. Si empunya hajat akan mencatat siapa saja yang telah menyumbang untuk kebutuhan hajatan tersebut. Dari sisi ini saya memaknainya sebagai bagian dari ibadah kultural, adanya rasa saling ingin melengkapi, menginfakkan sesuatu yang dibutuhkan kerabatnya. Terdapat asas tolong menolong yang melandasinya, yang dalam pandangan agama manapun itu adalah satu kebaikan. Karena di dalamnya terdapat manfaat satu sama lain.

Baca Juga:  Tembakau Sebagai Realitas Sosial

Ibadah bukan sebatas tata laku yang diatur dalam kepatuhan agama tertentu. Dalam konteks ibadah kultural, di sini adalah upaya menjalin nilai kekerabatan serta memaknai rasa syukur atas apa yang dimiliki. Didasari oleh semangat mempertalikan nilai-nilai yang mengingatkan kita kembali pada tujuan penciptaan, bahwa tak ada yang sia-sia dari segala anugerah yang dihadirkan Sang Maha Pengasih. Yang dalam kehidupan perokok, ibadah kultural ini terbentuk secara alamiah.

Dalam pandangan saya yang meyakini nilai-nilai islam sebagai rahmatan lil alamin. Yang artinya islam adalah agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh semesta alam. Pengertian rahmat di sini artinya sesuatu yang memiliki nilai manfaat untuk kelangsungan hidup para makhluk. Terutama manusia dan lingkungannya.

Tak ayal, rokok Indonesia, yang berbahan baku tembakau dan cengkeh itu, dua jenis tanaman endemik yang tumbuh subur dan dapat diolah menjadi berbagai produk yang menguntungkan masyarakat. Yang kemudian membentuk pemaknaan ibadah kultural tersendiri. Meski bukan berarti rokok tak memiliki faktor risiko. Dalam konteks ini kita pun mesti memahami proporsinya.

Baca Juga:  Terkena Sanksi Larangan Merokok, Carlo Ancelotti Tetap Berjiwa Sportif
Jibal Windiaz

anak kampung sebelah