Kemerdekaan itu Sebats, Dinikmati Jadi Energi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Sebagai pekerja kantoran yang tidak bisa merokok setiap saat, momen istirahat adalah saat yang paling menyenangkan bagi saya. Walau harus berjalan agak jauh, tapi ya tak apa, ketimbang kepala makin stres dan kerja jadi tidak benar, saya harus menyegarkan diri dulu. Dan di saat itulah saya merasakan kemerdekaan, setidaknya saya merasa merdeka dari stres yang menghampiri saya.

Mungkin hampir semua orang juga mengalaminya. Atau setidaknya, kebanyakan orang yang tinggal di ibukota dan sekitarnya. Berangkat pagi pulang malam. Sehabis Subuh sudah berangkat, sampai rumah selepas Isya. Berdesak-desakan di komuter, sumpek-sumpekan di angkutan kota. Mau tidak mau, begitulah hidup yang kiranya harus kami jalani, saya jalani.

Sebagai pekerja biasa, tentu ada banyak hal yang harus saya kerjakan. Apalagi posisi sebagai marketing membuat saya harus berhubungan dan mengawal semua pihak yang bekerja sama dengan kantor kami. Mengingat hal itu, ada banyak sekali yang harus saya kerjakan dan selesaikan setiap harinya.

Baca Juga:  Membuat Asbak dari Kaleng Minuman Bekas

Jika sudah begitu, tentu saja merokok adalah salah satu cara saya mengurangi beban dari pekerjaan saya. Tidak tidak, bukan dengan merokok pekerjaan saya jadi tidak lagi ada. Bukan itu. Namun, dengan merokok, saya bisa menyegarkan diri kembali agar pekerjaan dapat dikerjakan dengan maksimal.

Tapi berhubung aturan dan kesadaran saya sebagai perokok, saya tidak bisa sembarangan merokok di kantor. Ada hak orang lain yang harus saya hargai. Selain itu, mau bolak-balik keluar kantor nanti dimarahi atasan. Ya akhirnya pada saat istirahat itulah saya merasakan momen-momen kemerdekaan sebagai perokok.

Tidak hanya itu, buat saya merokok juga membuat hubungan antar pekerja jadi lebih terbuka. Jika selama jam kerja dan berada di kantor kebanyakan kami lebih memilih diam dan fokus mengerjakan tanggung jawab, maka pada jam istirahat semua berubah. Di salah satu tempat merokok paling enak di dekat kantor, warung Bu Sumi, kami yang tadinya diam kemudian jadi banyak bicara satu sama lain.

Dimulai dari hal ringan seperti pinjam meminjam korek, obrolan santai yang tergiring ke arah sambat dan curhat tentang pekerjaan keluar dari dalam diri kami. Kami bercerita, sembari merokok tentu saja, dan mengeluarkan beban serta unek-unek tentang pekerjaan. Ketika ada yang bercerita, yang lain mendengarkan. Pun sebaliknya dan terus begitu.

Baca Juga:  Rokok Sebagian dari Modal untuk Lentur dan Kritis di Pergaulan Mahasiswa

Karena itulah kami terus dan terus datang ke warung Bu Sumi ketika jam istirahat tiba. Sembari merokok dan menikmati kopi, kami berbincang tertawa dan mengeluarkan semua keluh kesah kami. Semua aura negatif coba kami buang melalui sambatan, dan energi positif kami hadirkan dengan canda tawa serta berbatang-batang rokok. Dengan hal-hal seperti inilah kami merasakan jika kemerdekaan itu nyata adanya.

Kalau kemudian merokok di warung Bu Sumi akhirnya dilarang, karena undang-undang atau entah apalah itu, darimana kami bisa mendapat kemerdekaan lagi?

Mochamad Anthony

Bukan aktivis buruh, cuma buruh kantoran