Stigma Rokok di Film Love For Sale

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Love For Sale 2 adalah salah satu film yang kini tengah diperbincangkan di jagat Indonesia. Bertemakan komplikasi asmara cinta orang dewasa, film ini dianggap sukses menyentuh perasaan orang banyak termasuk kalangan pria ibu kota. Konflik dalam film ini sungguhlah sangat sederhana, seoran pria dengan umur yang sudah cukup kemudian menghadapi deadline pernikahan yang diberikan oleh keluarga. Lalu juga ada satu sosok karakter antagonis bernama Arini yang sukses menyihir penonton baik itu di Love For Sale pertama hingga yang kedua.

Namun saya tidak mau banyak berbicara panjang tentang jahatnya seorang Arini, seorang perempuan yang datang dengan senyuman manis lalu pergi dan memberikan sang pria sebuah tangis. Tidak, tulisan ini juga bukan tentang bagaimana Richard Ahmad dan Ican, dua tokoh utama dalam film tersebut yang digambarkan sebagai seorang pria yang selalu menjadi korban.

Sebagai seorang perokok, saya melihat ada perbedaan yang menarik dalam dua film ini tentang bagaimana sebuah rokok itu digambarkan dalam sebuah sequence. Sejatinya saya tak tahu betul apakah sutradara film Love For Sale, Andi Bachtiar Yusuf adalah seolah perokok atau bukan. Sebab, ini bisa jadi sebuah tendensi bagaimana film ini membingkai framing rokok dan para perokok itu sendiri.

Baca Juga:  Lima Karakter Perokok pada Beberapa Serial Anime

Saya cukup telat menyaksikan film Love For Sale pertama, justru saya menyaksikan terlebih dahulu film kedua di layar bioskop. Film Love For Sale pertama justru saya saksikan melaui netflix, ya kualitas sangat baik asal ditonton dengan kualitas internet yang mumpuni. Di Love For Sale pertama, ada framing yang positif dalam menggambarkan seorang perokok. Hal itu nampak saat Richard Ahmad sedang melakukan basa-basi terhadap pegawainya yaitu Pak Syamsul yang diperankan oleh Rukman Rosadi.

Kala itu Pak Syamsul yang usai menyantap makan siang di waktu istirahat dihampiri oleh Richard Ahmad. Pak Syamsul sedang asyik menikmati rokok di samping kantor, lalu Richard memberi komentarnya tentang perokok. Richard menyinggung soal besaran nilai cukai rokok dalam sebuah bungkus rokok. Lalu ia memuji para perokok karena menurutnya para perokok adalah orang yang paling taat dalam membayar pajak negara. Entah ini sindiran atau bukan, namun menurut saya pernyataan itu tepat mengingat sebelum para perokok mengkonsumsi rokok, cukai dan pajak saja sudah mereka bayarkan.

Baca Juga:  Mengulik Sejarah Pemantik

Sedangkan di Love For Sale kedua, stereotip perokok dibuat lebih buruk. Sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan di film pertama. Ibu Ican yaitu Rosmaida yang diperankan oleh Ratna Riantiarno dalam Love For Sale 2 menyebut bahwa seorang perokok bukan orang yang baik untuk dinikahi. Tentu ini sering terjadi di kehidupan nyata. Banyak di luar sana yang membangun sebuah standar ideal tentang cinta, pernikahan, hingga syarat-syarat untuk menjadi seorang mantu. Standar ini sungguh bias karena berdasarkan hal-hal yang tak masuk akal, termasuk standar yang menyebut tak baik menikahi seorang perokok.

Bisa saja premis tersebut membuat kita berasumsi bahwa Love For Sale 2 justru sangat antirokok. Akan tetapi, kita bisa melihatnya dalam tafsiran yang lain. Begini, film adalah penggambaran realita yang diangkat dalam bentuk sebuah seni penampilan dengan medium layar lebar. Sebuah seni harus berdasarkan realitas yang terjadi pada sosial, terlebih sebuah film. Dengan teori demikian maka Love For Sale dibuat harus dengan kejadian yang senyata mungkin terjadi pada masyarakat. Maka jika realitas sosial itu bisa diangkat dan digambarkan senyata mungkin dalam film, maka karya sang sutradara itu bisa dikatakan berhasil,termasuk menyihir para penonton.

Baca Juga:  Andai Jakarta Belajar dari Asbak Ubin di Belgia

Realitas sosial yang terjadi adalah memang para perokok mendapatkan diskriminasi di masyarakat, termasuk para orangtua yang mencari jodoh untuk anaknya. Realitas sosial juga di masyarakat bahwa perokok selalu membayar cukai dan menyumbang pendapatan negara namun sering jarang mendapatkan fasilitas yang layak untuk merokok di tempat umum. Jika menggunakan teori realitas sosial tersebut, maka film Love For Sale bukanlah sebuah karya layar lebar yang antirokok.

Terakhir, bagi saya ini hanyalah tafsiran semiotika-semiotika yang bisa kita telaah dari sebuah film. Saya bisa menafsirkan demikian, Anda pun bisa berbeda. Pastinya film ini cukup layak untuk ditonton bagi kalian para perjaka yang kebingungan tentang pasangan di masa depan. Cinta lagi-lagi tak bisa diperoleh secara instan, berjuanglah untuk perasaanmu, berjuanglah untuk masa depanmu!

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta