Gus Dur Sang Pahlawan Petani Cengkeh

gus dur
foto: merdeka.com

Pada kunjungan pertama ke Jombang kemarin, untuk pertama kalinya juga saya membuktikan kebenaran cerita soal Gus Dur. Dari omongan beberapa teman, saya diberitahu kalau makam Gus Dur tak pernah sepi. Selalu ada orang datang untuk mendoakannya.

Memang, pada kunjungan saya ke “dekat” makamnya, saya lihat ada satu rombongan bus kecil datang ke sana. Berdoa, dari kejauhan. Saat itu malam telah menunjuk angka 3. Dini hari telah lewat, dan orang-orang itu (juga saya) masih datang ke makam Gus Dur untuk mendoakannya dari balik tembok dan pagar yang telah terkunci.

Saya tahu bahwa Gus Dur adalah orang besar yang dicintai banyak orang. Ajarannya tentang kemanusiaan dan pluralisme membawanya pada titik yang berbeda dengan kita manusia jelata. Dengan kekuasaannya saat menjadi presiden dulu dimanfaatkan dengan baik, walau dalam jangka waktu yang tidak lama.

Orang-orang Tionghoa kembali bisa merayakan adatnya. Mereka yang beragama Kong Hu Chu dapat mengamalkan keyakinannya. Dan salah satu yang membuat Gus Dur dianggap sebagai pahlawan, tentu saja, keputusannya untuk menutup keran impor pasca bubarnya Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh yang meluluhlantahkan hajat hidup petani cengkeh berhasil menaikkan harga komoditas ini.

BPPC, sebagai lembaga, mungkin telah jatuh seiring tumbangnya kekuasaan orde baru. Tapi bagi hampir seluruh petani cengkeh, kekuasaan Gus Dur lah yang mengembalikan harga cengkeh ke posisinya semula. Tepat di posisi yang menyejahterakan mereka.

Keberadaan BPPC sendiri adalah momok bagi komoditas cengkeh yang kala itu tengah mengalami masa jaya kala berkembangnya industri kretek. Penanaman secara besar-besaran dilakukan di banyak daerah. Harga cengkeh mencapai kisaaran angka Rp 50 ribu. Komoditas ini telah bangkit kembali setelah sempat terpuruk karena ditemukannya lemari es yang menafikan peran mereka sebagai pengawet makanan. Fungsi utama cengkeh bagi orang eropa.

Sayangnya masa jaya itu dihancurkan oleh sebuah lembaga bentukan rezim yang memonopoli penjualan cengkeh. Harga cengkeh jatuh ke angka Rp 2 ribu. Hidup petani suram, pohon-pohon cengkeh pun banyak yang ditinggalkan.

Mimpi buruk bagi petani cengkeh ini didalangi oleh duo Nurdin Halid dan Utomo Mandala Putra. Waktu itu Nurdin menjadi ketua Induk Koperasi Unit Desa sebagai pembeli pertama komoditas dari petani, sementara sang putra mahkota rezim menjadi penyalur ke industri melalui perusahaannya PT Kembang Cengkeh Nasional.

Setelah rezim jatuh, memang para petani mulai berani melampiaskan amarah mereka dengan membakar koperasi unit desa yang ada di tempat mereka. Cerita ini saya dengar dari beberapa petani cengkeh yang saya jumpai. Tapi kemudian, harga cengkeh kembali naik dan dampak BPPC benar-benar musnah terjadi ketika Abdurrahman Wahid berkuasa.

Kini harga cengkeh berkisar Rp 80 ribu hingga Rp 150 ribu. Tahun ini malah ada kemungkinan harga menjadi lebih tinggi karena cengkeh gagal panen. Tapi ya semurah-murahnya harga cengkeh, besarannya masih ada di angka Rp 70 ribu. Dan semua itu bisa terwujud karena bubarnya BPPC dan ditutupnya impor cengkeh oleh Gus Dur.

Pantaslah, dari sekian banyak petani cengkeh yang saya temui, hampir semua mereka menyebut nama Gus Dur sebagai salah satu penyebab kembali berjayanya cengkeh di Indonesia. Walau negara belum pernah menganugerahkan gelar pahlawan padanya, tapi bagi banyak petani cengkeh sosok Abdurrahman Wahid adalah pahlawan. Setidaknya setiap berbincang soal namanya, rasa terima kasih dan doa selalu keluar dari mulut para petani. Semoga Tuhan menerimamu dengan bahagia di sisi-Nya.