Tetap Bertahan Bersama Cengkeh

Saya datang ke Bali Utara berbekal kabar tidak baik bagi petani cengkeh. Tahun ini cengkeh tidak panen akibat curah hujan yang tinggi tahun 2016 yang lalu. Dengan asumsi serta pertanyaan yang didapat dari diskusi dan berburu informasi, waktu dua minggu di Bali Utara harus saya maksimalkan untuk menggali nilai penting cengkeh bagi petani di sana.

Perjumpaan pertama saya dengan stakeholder cengkeh di Bali Utara menghasilkan satu pemahaman. Mereka tidak pernah kehilangan keyakinan pada komoditas ini. Gagal panen tidak membuat mereka berpaling. Petani tetap setia merawat kebunnya, penggarap pun begitu. Pemetik dan pekerja kebun mencari cara bertahan hidup sembari menunggu datangnya panen raya.

Selama berada di Bali Utara, saya menemui orang-orang yang memiliki keyakinan terhadap cengkeh bahwa tahun depan akan panen besar. Entah petani, pemajeg (pengijon), pemetik, atau pekerja kebun. Semua memiliki keyakinan dan harapan yang sama.

Sebagai masyarakat yang hidupnya lekat dengan adat dan agama, mereka punya keyakinan kalau saat ini pohon cengkeh tengah “bermeditasi”. Tidak keluarnya bunga cengkeh tahun ini dianggap sebagai upaya tanaman untuk menyerap lebih banyak agar bisa memberikan hasil melimpah tahun depan. Petani dan stakeholder diajak untuk belajar bersabar oleh alam.

Sembari tetap memegang keyakinan, mereka mencari cara untuk mempertahankan hidup. Mereka mengandalkan komoditas lain yang ada di kebunnya. Mulai dari kopi, kelapa, dan pisang menjadi harapan hidup mereka. Ada pula yang berharap pada ternaknya, sembari mencari pekerjaan serabutan untuk mengebulkan dapur di rumah.

Cengkeh, bagi mereka, adalah pemeran utama dalam sebuah drama. Ketika pemeran utama tidak hadir, mereka masih memiliki pemeran figuran untuk mempertahankan cerita. Tapi figuran hadir bukan untuk menggantikan pemeran utama. Ia adalah pendamping yang mendorong pemeran utama agar cerita tetap berjalan.

Meski komoditas lain hadir untuk membantu petani bertahan hidup, tetapi posisi cengkeh tidak tergantikan. Selain telah menjadi urat dalam hidup mereka, budi daya dan tata niaga cengkeh pun lebih menggiurkan. Bukan hanya bagi para petani, tapi juga mereka yang terlibat dalam tata niaganya.

Modal budi daya cengkeh tidak seberapa besar. Perawatannya tidak banyak makan waktu dan tenaga. Apalagi nilai ekonomi komoditasnya belum bisa dikalahkan komoditas lain. Semua hal itu yang membuat posisi cengkeh tidak tergantikan.

Selama pemeran utama tidak mati, ia tidak bisa diganti. Begitu juga cengkeh yang tidak akan terganti posisinya selama masih bisa memberikan manfaat buat mereka. Keyakinan inilah yang membuat mereka bertahan bersama cengkeh.

Kini tinggal mereka menunggu kedatangan musim panen tahun depan. Sembari mencari cara untuk mempertahankan hidup, mereka memegang teguh keyakinan akan kejayaan. Tahun depan cengkeh panen besar, keuntungan berlimpah bakal mereka dapatkan.