Menghitung Nilai Ekonomi Cengkeh Bagi Petani Bali

Komoditas cengkeh di Bali berkembang pesat karena nilai ekonominya yang tinggi. Pada masa awal ditanam, harga jual komoditas ini mengalahkan nilai ekonomi kopi yang sebelumnya menjadi andalan. Setelahnya, penanaman cengeh secara besar-besaran dilakukan dan kini Bali menjadi salah satu provinsi penghasil cengkeh terbaik di Indonesia.

Jika mau dikalkulasi, keuntungan petani cengkeh atas satu hektar lahan bisa mencapai Rp300 juta. Angka tersebut adalah keuntungan bersih para petani karena jumlahnya telah dipotong oleh biaya perawatan dan pengerjaan pascapanen. Hitungan ini didasarkan pada kerja-kerja yang dilakukan oleh petani cengkeh di Bali.

Satu hektar kebun cengkeh biasanya ditanami sekitar 100 pohon bahkan lebih. Tergantung seberapa besar jarak tanaman yang diinginkan petani. Dalam kasus ini, diambil angka rata-rata 100 pohon untuk mempermudah kalkulasinya.

Biaya-biaya yang harus dikeluarkan petani setiap tahunnya berkisar pada urusan perawatan dan pascapanen. Pada masa perawatan, ada dua pengeluaran yang harus dilakukan petani. Pertama, merabas (membersihkan) kebun dan pemupukan. Kedua aktivitas ini dilakukan dengan menyewa tenaga pekerja kebun untuk membantu petani.

Untuk membersihkan kebun dengan luasan satu hektar, petani membutuhkan antara 5 hingga 10 pekerja kebun dengan estimasi waktu dua hari kerja. Dengan biaya upah pekerja kebun sebesar Rp100.000 sehari, maka dibutuhkan biaya sebesar dua juta rupiah untuk sekali membersihkan. Dalam satu tahun, ada dua sampai tiga kali agenda membersihkan kebun.

Sementara untuk pemberian pupuk, setiap satu pohon membutuhkan pupuk kimia dengan merek seperti Ponska sebanyak lima kilogram. Berarti, satu hektar kebun membutuhkan 500 kilogram pupuk ponska. Pupuk ponska dibanderol Rp400.000 per kuintal.

Artinya, untuk kebutuhan pupuk satu hektar, petani mengeluarkan biaya dua juta rupiah. Pemupukan dilakukan oleh lima orang pekerja kebun dengan estimasi waktu satu hari. Maka, biaya tambahan yang harus dikeluarkan sebesar Rp500.000. Setiap tahun, pemupukan dilakukan satu hingga dua kali.

Saat panen, petani harus mengeluarkan biaya membeli tangga sebanyak lima buah per hektar dengan harga Rp300.000 per buah. Jadi, petani mengeluarkan uang sebesar Rp1.500.000. Untuk pemetik, dalam sistem borongan, mereka akan dibayar Rp5.000.

Jika satu pohon cengkeh menghasilkan 120 kilogram cengkeh basah, maka petani harus membayar upah sebesar Rp600.000 untuk satu pohon. Maka, satu hektar dibutuhkan dana sebesar 60 juta rupih untuk pemetikan.

Setelah pemetikan, cengkeh basah kemudian harus dipisahkan antara bunga dan tangkainya (kepik). Proses pengepikan memakan biaya sebesar Rp1.000 per kilogram. Maka, biaya yang dikeluarkan untuk proses pengepikan sebesar Rp120.000 per pohon dan 12 juta rupiah per hektar.

Proses pengeringan cengkeh dalam skala besar biasanya dilakukan di Seririt. Biaya yang dikeluarkan adalah untuk sewa lahan sebesar Rp1.500.000 juta per tahun dan ongkos pengeringan sebesar Rp100.000 per kuintal. Artinya, dengan tingkat penyusutan 1:3 dari berat basah, cengkeh kering yang dihasilkan sebanyak 40 kilogram per pohon atau empat ton per hektar. Ongkos pengeringannya sebesar empat juta rupiah.

Dengan asumsi harga cengkeh rata-rata Rp100.000 per kilogram, maka nilai penjualan cengkeh petani dalam satu hektar sebesar 400 juta rupiah. Apabila dipotong dengan ongkos produksi, maka keuntungan petani dalam satu hektar cengkeh sebesar:

Dengan nilai ekonomi sebesar itu, tidak heran jika banyak petani memilih cengkeh sebagai komoditas andalan. Apalagi, cengkeh kering memiliki keunggulan dapat disimpan cukup lama. Keuntungan ini membuat petani memiliki tabungan dalam bentuk hasil panen yang bisa dijual ketika membutuhkan uang.