Framing Negatif Media Soal Rokok yang Sesat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Lagi-lagi rokok, lagi-lagi rokok yang dikambinghitamkan atas penyakit yang hadir dalam tubuh manusia. Apalagi narasi tersebut kembali diagung-agungkan oleh media yang kerap melakukan pengaburan fakta demi mendapatkan pembaca yang banyak. Jahat? Ya memang dan buktinya praktik tersebut masih bisa dijumpai di media daring akhir-akhir ini.

Kebiasaan media kerap menarik opini masyarakat untuk menghukum aktivitas merokok sebagai biang kerok hadirnya sebuah penyakit. Satu yang pasti, jika ada sosok terkenal yang menderita penyakit atau justru amit-amit meninggal, maka ramai-ramai media dan masyarakat mengaitkannya dengan rokok meski belum tentu si tokoh tersebut adalah seorang perokok.

Demi mengejar pembaca dan cepatnya arus infomasi, sebuah nilai bernama coverboth side dalam sebuah berita jadi hal yang diacuhkan belakangan ini. Parahnya, acapkali pemilihan judul dibuat sangat seksi sehingga mampu menarik minat baca orang banyak, walau kadang kita sembagai pembaca harus tertipu. Mau minta contoh? Coba observasi sendiri dan teliti pasti masih sering dijumpai kok.

Baca Juga:  Andil Antirokok terhadap Pelemahan Ekonomi Nasional

Terbaru sebuah berita Harianhaluan.com cukup menarik perhatian. Secara nama sih tidak besar dan menjadi barometer pembaca nasional, namun nampaknya media ini cukup popular di daerahnya sana yaitu Sumatera Barat. Apa yang membuat media ini tiba-tiba menarik perhatian yaitu menggunakan judul yang tendesius yaitu “Ternyata Perokok Bisa Memperpendek Umur Pria”

Sungguh judul yang mencengangkan karena memnggunakan pemilihan kata-kata yang seolah-olah memberikan sebuah kesimpulan. Sejatinya isi beritanya adalah kutipan tentang bahaya rokok yang diucapkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Djuwita F. Moeloek, namun penulis berita tersebut seolah-olah menjadi sebuah fakta. Baiknya memang jika itu sebuah kutipan maka tak bisa semerta-merta menjadikannya sebagai sebuah judul yang terkesan menggiring.

Kejahatan lainnya adalah menyimpulkan rokok sebagai biang dari pendeknya umur pria. Padahal jika kita mau baca beritanya secara utuh, Nila F. Moeloek juga menjelaskan ada faktor lain yang membauat tubuh kita tak sehat. Ia menyebutkan makanan dengan lemak tinggi berpicu tingkatkan kolesterol yang tinggi.

“Banyak hal sebenarnya yang menjadi penyebab laki-laki Sumbar berumur pendek. Bisa jadi karena gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat. Kita tahu bahwa sebagian besar makanan khas Sumbar, katakanlah seperti randang, gulai, dan sebagainya, mengandung kolesterol yang tinggi,” ucap Nila F. Moeloek dan ia meminta untuk mengurangi konsumsi makanan tersebut.

Baca Juga:  Tidak Merokok Bukan Berarti Hemat

Dari kutipan tersebut jadi jelas bahwa menteri kesehatan juga mengakui bahwa bukan hanya rokok yang meniadi faktor penyakit. Lalu mengapa hanya rokok yang disalahkan dan menjadi biang keroknya. Jika ingin fair soal kesehatan, disertakan pula seharusnya hasil riset tentang dampak positif rokok bagi tubuh, pikiran, atau sekalian pembangunan. Bukannya memang tugas seorang wartawan untuk mengulik lebih jauh tentang apa yang sedang diliputnya, atau jangan-jangan memang keburu tenggat waktu dan tuntutan agar menarik dibaca sehingga nilai-nilai jurnalisme jadi disingkirkan? Sungguh kasian.

Indi Hikami

TInggal di pinggiran Jakarta