Cengkeh Afo

Jauh sebelum Republik Indonesia terbentuk, bahkan jauh sebelum Tan Malaka menuliskan Naar de Republiek Indonesia, bumi nusantara sudah dikenal oleh dunia karena keberadaan cengkeh. Tanaman rempah ini amat disukai oleh bangsa eropa karena kemampuannya untuk mengawetkan makanan. Karenanya, tanaman ini diperebutkan oleh bangsa eropa hingga akhirnya monopoli perdagangannya oleh Vereenigde Oostindische Compagnie.

Rempah ini adalah tanaman endemik dari kepulauan Maluku. Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan adalah sentra-sentra penghasil cengkeh yang cukup terkenal di dunia. Di kepulauan ini juga terdapat nenek moyang dari semua tanaman cengkeh yang ada di dunia, yakni cengkeh Afo.

Cengkeh Afo dikatakan dapat hidup hingga usia ratusan tahun. Bahkan, pohon cengkeh generasi pertama dari jenis ini bisa hidup hingga usia 400 tahun. Sayangnya, pada medio 1990-an tanaman ini tak mampu bertahan lebih lama. Ia mati, dimakan usia yang menginjak angka 416 tahun. Meski begitu, sebelum mati Ia masih sempat menghasilkan panen yang cukup banyak pemiliknya.

Walau pohon cengkeh pertama di dunia ini telah mati, namun pemerintah setempat telah membudidayakan cengkeh dengan varietas yang sama hingga generasi keempat cengkeh Afo.

Varietas cengkeh Afo hanya tumbuh di Pulau Ternate. Namun, semangat masyarakat dalam melestarikan nampaknya kian kendur.  Masyarakat setempat tidak banyak membudidayakan tanaman endemic tersebut. Karena itulah, cengkeh Afo semakin kehilangan kepopulerannya dan ditinggalkan oleh petani setempat.

Cengkeh Afo merupakan varietas cengkeh yang hasil produksinya cukup besar dan tahan lama. Menurut data yang disampaikan Dinas Perkebunan Maluku Utara, pohon Cengkeh Afo yang pertama memiliki ukuran 36,60 meter dan garis tengah 1,98 meter.

Saat ini, tidak sedikit masyarakat yang datang ke lokasi penanaman cengkeh Afo untuk berziarah. Disebut begitu karena memang mereka datang untuk melihat cengkeh Afo pertama yang telah mati. Pohon cengkeh Afo yang dibudidayakan selanjutnya juga ditanam di sekitaran pohon yang pertama. Jadi masyarakat yang datang ke sana bisa melihat tanaman yang masih hidup dan menghasilkan buah.

Pohon cengkeh Afo kedua yang telah berusia 200 tahun kini kondisinya hampir mati. Karenanya pemerintah Maluku Utara terus mengupayakan budidaya tanaman ini walau hanya sebagian kecil petani yang mengenal dan mau menanam cengkeh Afo.

Pergeseran budidaya cengkeh oleh masyarakat setempat ini mulai terjadi ketika dibentuk Badan Penyangga Perdagangan Cengkeh oleh rezim Orde Baru. Keberadaan badan tersebut, harga cengkeh sempat anjlok dan masyarakat setempat yang tidak lagi bergairah mengelola perkebunan cengkehnya.

Beruntung, kondisi hari ini mulai berubah. Harga cengkeh mulai kembali tinggi. Memberikan penghidupan bagi para petaninya. Dan semua itu bermula dari sebuah pohon raksasa yang bernama Afo tersebut.