Memaknai Pencerahan Pada Perayaan Waisak

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bagi umat Budha, Hari Raya Waisak adalah momen untuk memperingati pencerahan yang dibawa Sang Budha.  Pada hari ini, ada tiga peristiwa penting bagi umat Budha. Pertama adalah kelahiran Sidharta Gautama, kedua adalah peristiwa tatkala Sidharta mencapai penerangan yang sempurna, dan yang ketiga wafatnya Sidharta. Tiga kejadian tersebut—kelahiran, penerangan, kematian— terjadi pada hari yang sama ketika bulan purnama di bulan Waisak.

Pencerahan adalah hal utama yang dirayakan dari hari raya ini. Kelahiran Sidharta membawa perubahan bagi kehidupan umat. Pencerahan yang didapatnya kemudian membawanya untuk mengajak umat untuk melakukan derma. Dan setelahnya, hingga wafat Ia membaktikan diri demi umatnya.

Untuk umat Budha, perayaan Waisak ini dilakukan agar mereka kembali mengingat ajaran Budha dan melaksanakannya dalam kehidupan. Upaya untuk kembali menaati peraturan moral, juga melaksanakan cinta kasih kepada sesama. Biasanya, hal ini yang menjadi pemaknaan utama dari perayaan Waisak.

Namun, perlu diingat, kehadiran Sidharta sendiri bagi umat Budha adalah pencerahan bagi dunia. Dengan tercerahkannya Sidharta, maka Ia mengabdikan diri untuk mengajak umat untuk menjalankan ajaran Budha. Keberadaannya sendiri menjadi pencerahan bagi dunia ini.

Baca Juga:  Selain Bahan Baku Kretek, Cengkeh Bisa Jadi Jamu Penjaga Stamina

Satu hal penting yang dapat kita pelajari adalah, bagaimana pencerahan itu membawa perubahan baik kepada dunia. Bagaimana ajaran Budha, pencerahan dari Sidharta, telah membawa manusia kepada satu masa yang lebih baik. Ini hal penting yang bisa dilakukan dengan pencerahan.

Tentu saja kita bisa mengingat masa Aufklarung di Eropa pada abad pertengahan. Kala itu, ilmu pengetahuan membawa perubahan besar bagi kehidupan manusia. Jika sebelumnya titah dari pemuka agama dianggap mutlak, maka kemudian Aufklarung membawa perbedaan dengan pemikiran baru yang lebih kritis.

Pencerahan sebenarnya juga telah dilakukan dalam perjuangan kretek. Dalam 10 tahun terakhir perjuangan stakeholder kretek, telah lahir puluhan buku hasil penelitian tentang kretek. Mitos-mitos yang dulunya direproduksi untuk mendiskreditkan kretek, telah bisa dibantah dengan penemuan-penemuan yang ada di buku-buku tersebut.

Misal pada buku Nicotine War yang mengungkap bagaimana kampanye antitembakau yang masif dilakukan untuk menutupi pertarungan global memperebutkan bisnis nikotin.

Atau pada buku Perempuan Bicara Kretek yang mencoba membongkar paradigma masyarakat yang menganggap perempuan perokok adalah perempuan nakal.

Baca Juga:  Lima Alasan Menolak FCTC

Selain itu, mitos-mitos yang dikultuskan seperti merokok dapat membuat kita mati muda kemudian terbantah dengan hadirnya Buku Mereka yang Melampaui Waktu yang menggambarkan para orang tua berusia lebih dari 70 tahun tetap sehat walau  merokok.

Riset dan penerbitan penelitian ini adalah upaya untuk mencerahkan pandangan masyarakat terkait tembakau dan kretek. Biar bagaimanapun, bangsa Indonesia memiliki kepentingan besar terhadap kretek. Baik masyarakat juga negara. Karenanya, hal-hal seperti ini akan terus dilakukan agar pandangan masyarakat terhadap kretek tidak melulu buruk.

Memang harus diakui bahwa masih ada perokok berperilaku buruk yang membuat citra kretek dan perokok menjadi tidak baik. Namun, upaya untuk mengajak mereka yang belum bertanggungjawab agar lebih santun pun telah diupayakan. Mengajak mereka untuk menghargai hak orang lain yang tidak merokok adalah salah satu kerja utama Komunitas Kretek dalam 8 tahun ini.

Maka dari itu, sebagai sebuah upaya untuk memaknai dan belajar dari Waisak, agaknya kita harus terus belajar untuk menyebarkan kebaikan. Tanpa perlu ada kebencian yang tercipta karena kretek, marilah kita saling menghargai hak dan terus menyebarkan pencerahan pada orang-orang yang melulu mendiskreditkan kretek.

Baca Juga:  Ponorogo dan Perlindungan Petani Tembakau
Aditia Purnomo

Bukan apa-apa, bukan siapa-siapa | biasa disapa di @dipantara_adit