Indro Warkop dan Fenomena Perokok Hijrah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

“Saya seorang tester, tingkatan perokok tertinggi. Saya di atas heavy smoker, empat bungkus (rokok) sehari,” ~ Indro Warkop.

Ya, Om Indro memang mantan perokok. Maksudnya, Ia pernah menjadi konsumen rokok. Tak tanggung-tanggung, menurut pengakuannya, empat bungkus rokok bisa Ia habiskan dalam sehari. Bukan dosis yang rendah, tentunya. Semua kebiasaan itu terjadi dalam periode waktu yang cukup panjang; sejak masa remaja hingga menjadi seorang ayah.

Kini, Indro Warkop sudah 22 tahun pensiun dari status perokok, sejak terakhir merokok pada hari Lebaran tahun 1998. Sampai di sini tidak ada yang salah.

Merokok, sebagaimana yang kita tahu, adalah pilihan bebas. Semua orang (termasuk Om Indro) bisa menentukan kehendaknya sendiri; menjadi perokok atau tidak. Ada pun beberapa batasan yang bersifat teknis berkaitan dengan manajemen risiko. Misal, hanya diperkenankan bagi usia 18 tahun ke atas, tidak merokok dekat anak dan ibu hamil, dan lain-lain. Jadi, pilihan Om Indro untuk berhenti merokok adalah haknya, sebagaimana Ia juga berhak untuk merokok sebelumnya.

Baca Juga:  Kretek, Foucault dan, Kesehatan

Setelah lama tak merokok, logika absurd khas anti rokok semakin kental terasa dalam diri komedian legendaris bernama lengkap Indrojojo Kusumonegoro ini. Om Indro menyebut dirinya merasa jantan karena mampu menghentikan kebiasaan merokok.

“Saya merasa menang menghadapi hawa nafsu saya sendiri, saya merasa laki, merasa jantan,” ucap Indro seraya mengenang masa-masa menjadi perokok.

Sebagai konsekuensi logis dari pernyataannya, Om Indro harus menjelaskan apa yang Ia rasakan saat masih menjadi perokok. Apakah Ia tidak merasa laki sebelumnya? Apa mungkin ‘kejantanan’-nya baru muncul pasca berhenti merokok? Hmm..

Lantas, bagaimana dengan perokok perempuan yang memutuskan untuk berhenti merokok, apakah mereka secara otomatis menjadi jantan juga? Ini absurd, tidak jelas makna kejantanan yang dimaksud.

Kita bisa saja memaknai ucapan Om Indro sebagai permainan bahasa. Ia jelas ingin mengirim pesan bahwa merokok itu buruk, berbahaya, dan sebagainya. Saya hormati pernyataan sikap pribadinya, itu hak beliau. Tapi, menggunakan terminologi ‘jantan’ amatlah berlebihan. Sekali lagi, merokok atau tidak merokok adalah pilihan bebas. Dan pilihan itu sama sekali tak berkaitan dengan kejantanan.

Baca Juga:  Pebulu Tangkis Malaysia yang Dicoret Lantaran Merokok

Tidak mengherankan memang, ada banyak orang yang memilih hijrah dari kondisi lama ke kondiri baru lantas menyalahkan masa lalunya sendiri. Fenomena hijrah di negeri ini memang kerap diikuti dengan cara pandang yang arogan, merasa sosok paling benar, mendiskreditkan segala apa yang berkaitan atau menyerupai dirinya di masa lalu, lalu menganggapnya sebagai kemungkaran yang perlu dikutuk dan ditinggalkan.

Om Indro justru memperkuat anggapan yang menyebut bahwa hijrah–apabila dilakukan tanpa ketulusan dan akal sehat–adalah hal yang perlu diwaspadai. Dulu, ketika mengisap empat bungkus rokok sehari, beliau masih mampu mengeluarkan komedi segar yang menghibur. Kini, Ia malah identik dengan anti rokok yang kerap berputar-putar dalam lingkaran logika absurd.

Aris Perdana

Manusia yang dikutuk untuk bebas | @arisperd